Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Polres Mojokerto Bongkar Kasus Mafia Tanah

Kapolres Mojokerto, AKBP Apip Ginanjar saat merilis pelaku perkara mafia tanah.

Mojokerto (beritajatim.com) – Erri Dedi Setiawan (40) warga Desa/Kecamatan/Kabupaten Jombang diamankan anggota Satreskrim Polres Mojokerto. Pelaku diduga melakukan penipuan dan pemalsuan surat tanah milik dua korban hingga meraup keuntungan mencapai Rp1 miliar.

Akibat perbuatan pelaku, dua korban kehilangan rumah dan tanah karena pihak bank melakukan proses lelang. Kedua korban yakni Hermiati (39) warga Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu dan Abdul Rouf, warga Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Kapolres Mojokerto, AKBP Apip Ginanjar mengatakan, kasus mafia tanah tersebut dengan modus pelaku sebagai pengusaha yang mencari sasaran masyarakat yang terlilit hutang di rentenir. “Modusnya, tersangka menyuruh karyawannya untuk mencari orang yang terlilit utang di rentenir,” ungkapnya, Kamis (24/3/2022).

Masih kata Kapolres, menebus agunan sertifikat tanah milik korban di rentenir. Setelah mendapatkan sertifikat itu, pelaku membuat Akta Jual Beli (AJB) palsu. Aksi pelaku dilakukan pada awal tahun 2017 lalu dengan korbannya Hermiati. Pelaku memberikan pinjam kepada korban sebesar Rp25 juta.

“Uang sebesar Rp25 juta tersebut diberikan kepada korban untuk melunasi utang di rentenir dengan syarat sertifikat. Sertifikat tanah korban di Desa Tumapel, Kecamatan Dlanggu diberikan sebagai jaminan, namun sertifikat tidak diberikan sampai korban bisa melunasi pinjaman tersebut,” ujarnya.

Pelaku Erri Dedi Setiawan

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo menjelaskan, korban mengaku sebagai pengusaha dan memiliki showroom sehingga bisa memberikan pinjaman dana untuk menjebak para korbannya.

“Setelah mendapatkan sertifikat tanah milik korban, pelaku diam-diam membuat AJB palsu sehingga seolah-olah ia sudah membeli tanah korban. Berbekal AJB palsu itulah, pelaku mengubah sertifikat tanah korban menjadi atas nama istrinya, Novita Puspa Dewi di BPN (Badan Pertanahan Nasional),” jelasnya.

Sertifikat tersebut kemudian digunakan pelaku bersama istrinya untuk mengajukan pinjaman ke salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari pengajuan pinjaman tersebut, lanjut Kasat, pelaku mendapatkan pinjaman dari bank sebesar Rp750 juta. Namun pelaku tidak pernah menganggur sehingga pihak bank melelang.

“Korban baru tahu ketika menerima pemberitahuan dari bank kalau tanahnya dilelang pada 2018 silam dan korban melaporkan pada 22 November 2021 lalu. Dari hasil penyelidikan, pelaku berhasil diamankan di Desa Citatah, Cipatat, Kabupaten Cimahi pada 2 Februari 2022 lalu,” urainya.

Kasat menjelaskan, korban kedua warga Sooko juga dengan modus yang sama. Korban kaget saat mengetahui jika rumah dan tanahnya dilelang padahal tidak pernah menjual. Korban kedua juga diberikan pinjaman pelaku sebesar Rp25 juta untuk menebus utang di rentenir.

“Pakai agunan tanah dan rumah kedua korban, tersangka total mendapatkan pinjaman dari bank Rp1 miliar. Inilah mafia tanah yang sesungguhnya. Masih kami dalami (keterlibatan pihak lain, red). Sebuah SHM bisa beralih tidak mungkin dilakukan sendiri. Berbekal warkah SHM itu kami akan merunut prosesnya sampai beralih menjadi milik tersangka,” tegasnya.

Petugas menyita sejumlah barang bukti berupa, berkas warkah SHM nomor 876 di Desa Tumapel tanggal 4 Februari 2017, satu buah flashdisk berisi dua file AJB palsu, 2 KTP tersangka dengan NIK berbeda, satu ponsel, serta sejumlah KTP palsu atas nama orang lain.

“Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 378 juncto Pasal 55 KUHP dan atau Pasal 263 juncto Pasal 55 KUHP dan atau Pasal 264 ayat (2) juncto Pasal 55 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal 8 tahun penjara,” pungkasnya. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar