Hukum & Kriminal

Masa Penahanan Habis

Polres ‘Lepas’ Tersangka Kasus Dugaan Beras Oplosan

Sumenep (beritajatim.com) – Latifa (43), warga Jl. Merpati, Pamolokan, Sumenep, tersangka kasus dugaan pengoplos beras akhirnya menghirup udara bebas. Polres Sumenep ‘melepas’ tersangka dari tahanan.

“Sejak awal, kami yakin bahwa klien kami tidak pernah melakukan tindak pidana apapun, termasuk pengoplosan beras seperti yang disangkakan penyidik polres,” kata Kuasa hukum Latifa, Kamarullah, Selasa (19/5/2020).

Bebasnya tersangka dari tahanan Polres tertuang dalam Surat Perintah Pengeluaran Penahanan nomor pol : SPP-Han/48.f/V/2020/Reskrim, tanggal 18 Mei 2020 ditandatangani Kapolres Sumenep, AKBP Deddy Supriadi.

Surat Perintah Pengeluaran Penahanan tersebut ditujukan kepada Kasat Reskrim Polres Sumenep, AKP Oscar dan lima penyidik lainnya.

Pertimbangan yang tercantum dalam SPP itu, bahwa untuk kepentingan bantuan penyidikan dalam hal penahanan dan terhadap tersangka jangka waktu penahanan telah berakhir dan tidak dapat diperpanjang lagi.

Karena itu, tersangka harus dikeluarkan dari tahanan demi hukum atau bahwa kepentingan pemeriksaan belum terpenuhi (P.21) dan tidak ada kekhawatiran tersangka akan melarikan diri atau akan merusak/ menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana, maka perlu untuk mengeluarkan surat perintah ini.

“Surat perintah pengeluaran penahanan itu menunjukkan bahwa penyidik tidak mampu membuktikan jika klien kami bersalah. Bayangkan, waktunya ini sudah 60 hari. Kalau kasus-kasus lan, belum satu bulan sudah bisa dibuktikan tindak pidananya. Untuk kasus klien kami, karena memang tidak ada pelanggaran undang-undang,” papar Kamarullah.

Sebelumnya, pada Rabu (26/3/2020), Polres Sumenep menggerebek sebuah gudang beras di Jl. Merpati, Desa Pamolokan. Di gudang beras dengan nama UD Yudarama Art itu diduga terjadi pengoplosan beras. Modus pengoplosan beras di gudang itu, beras keluaran Bulog dicampur dengan beras tanpa merk (beras petani).

Beras-beras itu kemasannya dibuka, kemudian dituang ke lantai dan dicampur. Setelah itu, beras disemprot dengan cairan pandan, kemudian diangin-anginkan dan dikemas ulang dengan kemasan 5 kg bermerk ‘Ikan Lele Super’.

“Klien kami menyemprot dengan cairan pandan untuk meningkatkan kualitas. Pencampuran beras itu demi memperoleh hasil yang sama rupa. Lalu dimana letak kesalahan klien kami? Toh beras yang dikemas ulang itu merupakan beras premium yang dibeli secara resmi,” terang Kamarullah.

Ia mendesak agar Polres Sumenep, mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) sebagaimana ketentuan dalam Pasal 109 ayat (2) KUHAP. Hal itu kewenangan dari penyidik yang diatur pada Pasal 7 ayat (1) huruf i jo. Pasal 109 ayat (2) KUHAP.

“Karena tidak cukup bukti maka sudah seharusnya polres segera menerbitkan SP3. Perkara ini tidak masuk dalam kategori tindak pidana sehingga memang wajib dihentikan dengan penerbitkan SP3,” tegasnya.

Sementara Kasubag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti mengungkapkan, penahanan terhadap tersangka sudah dilakukan maksimal selama 60 hari sehingga tersangka atas nama Latifa dibebaskan demi hukum,

“Tetapi proses hukum tetap jalan. Penyidik polres sudah melengkapi semua petunjuk P19 dari jaksa. Tetapi jaksa masih meminta beberapa keterangan tambahan,” paparnya. [tem/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar