Hukum & Kriminal

Polisi Tetapkan DPO Pada Dua Pelaku Pembuangan Bendera

Surabaya (beritajatim.com) – Pihak kepolisian dikabarkan sudah menetapkan DPO pada dua pelaku pembuangan dan perusakan tiang bendera merah putih di depan Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan, Surabaya. Salah pelaku inisial GRD tercatat sebagai salah satu penghuni asrama.

Hermawan Benhard Manurung kuasa hukum Sulaeman selaku Pelapor menyatakan, pihaknya sudah mendatangi Polrestabes Surabaya untuk menanyakan perkembangan laporan yang sudah mereka buat kepada penyidik. “Kami selaku kuasa hukum dari pelapor saudara Sulaeman mendatangi Polrestabes Surabaya untuk menanyakan perkembangan terkait masalah laporan yang dilaporkan klien kami yaitu terkait undang-undang Nomer 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Dan Lambang Negara.”ujar Benhard, Kamis (19/9/2019).

Setelah menemui penyidik, Benhard mendapat keterangan bahwa terlapor saat ini sudah dimasukkan sebagai Daftar Pencarian orang (DPO) oleh Polisi. Sebab, mereka sudah dipanggil secara patut, akan tetapi mereka tidak kooperatif Sehingga pihak kepolisian mengeluarkan surat perintah penangkapan. “Bahwasanya sudah ada surat perintah penangkapan, karena terlapor atas nama GRD itu adalah salah satu mahasiswa Papua.”ungkap Benhard.

Siapapun yang meremehkan, sambung Benhard. Baik itu bahasa maupun lambang atau simbol negara, mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu secara hukum. “Sesuai dengan pasal 66 Undang-undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, ancaman hukumannya 5 tahun, dan ganti rugi Rp. 500 Juta,”paparnya.

GRD menurut Benhard, bukan hanya sekali ini saja terjerat kasus pidana. Dia juga sempat divonis bersalah di Pengadilan Negeri Malang sengan kasus yang serupa. Di kesempatan yang sama, Sulaeman memaparkan. Insiden dugaan perusakan tiang dan pembuangan bendera diselokan itu terjadi pada 16 Agustus 2019.

Sebelumnya, Pada 15 Agustus 2019 Bendera merah putih sempat dipasang oleh Muspika setempat di depan markas Mahasiswa Papua. Namun, bendera itu tiba-tiba berpindah tempat. “Kemudian, tanggal 16 (Agustus 2019) Muspika memasang lagi, hari Jumat jam 10 siang. Pemasangan Itu persis di depan asrama mahasiswa Papua. Setelah (Sholat) Jumatan, bendera itu terbuang di kali (Got).”papar Sulaeman.

Setelah melihat kejadian itu, Sulaeman lalu melapor ke Polrestabes Surabaya. “Ternyata perkembangannya, penyidik tadi bilang pelakunya sudah DPO,”kata dia.

Sulaeman menandaskan, dia merupakan masyarakat Surabaya dan warga negara sangat peduli dengan perjuangan para pahlawan. Untuk itu, pihaknya tidak menerimakan adanya perlakuan pihak-pihak yang tidak menghormati simbol negara dan juga NKRI. “Saya masyarakat Surabaya yang peduli dengan perjuangan pahlawan kita. Kebetulan disitu dekat dengan tempat tinggal saya. Jadi saya sangat tau persis pembuangan pendera itu,” tandasnya. [uci/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar