Hukum & Kriminal

Polisi Ringkus Penganiaya Bocah SD Asal Kupang Krajan yang Meninggal

Pelaku pencurian dengan kekerasan saat jalani gelar perkara di Mapolrestabes Surabaya, Jumat (11/6/2021).(Manik Priyo Prabowo)

Surabaya (beritajatim.com) – Mengenakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam, Mely (33), orangtua JM (12) yang meninggal usai dianiaya di rumah kos Jalan Kupang Krajan, Surabaya, beberapa waktu lalu, mengaku lega karena pelaku kejahatan terhadap anaknya sudah tertangkap.

Bahkan dirinya mengucapkan terima kasih atas profesionalisme Polri dalam mengungkap kasus yang menimpa anak semata wayangnya. Ibu yang sudah mengiklaskan anaknya ini pun menyerahkan semuanya ke pihak berwajib.

“Terima kasih atas keberhasilan pak polisi. Saya ucapkan terima kasih atas profesionalitasnya dan kerja kersa hingga pelaku bisa diamankan,” ucapnya kepada jurnalis saat mengikuti gelar perkara di Mapolrestabes Surabaya, Jumat (11/6/2021).

Sementara itu, Polrestabes Surabaya tidak butuh waktu lama mengamankan pelaku bernama Wahyu Buana Putra (45). Pelaku yang diketahui merupakan warga Cibiuk Kabupaten Garut ini ternyata cukup membuat petugas harus bekerja ekstra. Padahal, identitas pelaku sudah diamankan sejak diketahui perbuatan pelaku dilaporkan.

Namun dengan kesabaran dan keuletan petugas Unit Resmob Sat Reskrim Polrestabes Surabaya, berhasil meringkus pelaku pembunuhan JM (12) bocah kelas 6 SD di Jalan Kupang Krajan, Surabaya. Pelaku diringkus saat melarikan diri ke Kota Tanggerang. Kepada petugas, pelaku mengaku bahwa dirinya tergiur lantaran sang korban membawa ponsel pintar.

“Karena saya bangkrut dan tak memiliki uang. Usaha gagal dan tak bisa makan, maka saya melihat ponselnya (korban, red) akan bisa menolong. Akhirnya saya suruh dia (korban, red) masuk ke dalam kamar kos. Saya ambil paving dan pukul kepala belakang. Saya kira akan pingsang, tapi korban dengan dua pukulan ternyata seperti sesak,” katanya.

“Akhirnya saya pukul ketiga kali dengan mengejamkan mata. Lalu saya ajak pergi anak saya dengan membawa ponsel korban. Iya, anak saya melihat (waktu memukul, red) dan dia berteriak,” lanjutnya.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian mengatakan, menurut informasi pelaku kerap berpindah-pindah dari Surabaya menuju Tanggerang. Pelaku juga mengaku jika dari Surabaya ke arah Jawa Barat naik tumpangan dan naik angkot. Bahkan uang Rp 500 ribu hasil penjualan ponsel pintar tak dipakai buat beli tiket dari Surabaya langsung ke rumahnya.

Yang paling parah lagi, pelaku bersama anak pertamanya ini sempat berjalan kaki. “Dia melakukan itu semua dengan berjalan kaki, menumpang kendaraan orang lain hingga menggunakan kendaraan umum dengan meminta-minta bantuan kepada orang lain,” jelas Oki.

“Setelah kami mengikuti jejak pelaku dari informasi warga, kami mengetahui jika pelaku menuju Tanggerang. Disana dia punya keluarga,” lanjutnya.

Dari beberapa informasi, lanjut Oki, pelaku diamankan polisi di sekitar halaman Masjid Al Araaf, Perumahan Bukit Cirende, Tanggerang Selatan. Pelaku sendiri tidak memiliki tempat tinggal tetap atau sering berpindah-pindah dan sering beristirahat di tempat umum. “Pelaku ini memang tidak memiliki tempat tinggal. Biasanya beristirahat di warung, masjid, mushola, toko dan halte,” tambah Oki.

Oki menambahkan, pada saat dilakukan penangkapan, pelaku sempat melarikan diri saat melihat anggota hendak menyergapnya. Bahkan, pelaku tak menggubris tembakan peringatan yang diberikan polisi. “Karena mengabaikan tembakan peringatan anggota, pelaku juga hendak melawan dan melarikan diri, kami melakukan tindakan tegas terukur dengan menembak kakinya,” tegasnya.

Perlu diketahui, seorang pelajar kelas 6 SD berinisial JM (12) tewas akibat dianiaya seorang pria. Sebelum tewas, korban ditemukan dalam keadaan bersimbah darah di sebuah kamar kos Jalan Kupang Krajan Surabaya.

Korban dirawat intensif karena mengalami luka retak pada tengkorak kepala, mata kiri berdarah dan wajah bagian kiri juga bengkak diduga akibat dipukul paving oleh pelaku, yang berasal dari Garut, Jawa Barat tersebut. Namun, korban dinyatakan meninggal setelah 4 hari koma di rumah sakit Dr Soetomo.(man/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar