Hukum & Kriminal

Polisi Diminta Usut Hadiah Lomba Batik Pemkab Malang yang Molor Setahun

Malang (beritajatim.com) – Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Malang Raya mendesak aparat hukum mengusut molornya hadiah bagi pemenang lomba batik tahun 2018 lalu.

Pasalnya, lomba yang digelar untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1258 tahun 2018 lalu, justru baru diserahkan pada Hari Batik Nasional, Jumat (4/10/2019) kemarin. Penyerahan hadiah yang molor setahun ini, dirasa Malang Coruption Watch (MCW) sudah keterlaluan. Dinas di Pemkab Malang selaku penyelenggara kegiatan, dirasa cacat etika publik.

“Secara etika publik cacat. Sebab lomba sudah dilakukan di tahun 2018. Tapi sampai baru diserahkan tahun ini,” ucap Divisi Pengaduan MCW, Ibnu Syamsu Hidayat.

Hidayat menilai lomba batik tulis tersebut tidak memiliki konsep yang jelas. “Seharusnya segera diserahkan, jangan diundur-undur waktu penyerahannya. Supaya tidak menimbulkan pertanyaan,” terangnya.

Ditanya apakah dalam hal ini terindikasi dana lomba dikorupsi? Hidayat belum berani memastikan. “Harus dikaji lebih lanjut nanti,” tegasnya.

Kasus molornya penyerahan hadiah lomba sempat disentil Plt Bupati Malang, HM.Sanusi pada bulan September 2019 lalu. Saat itu, Sanusi memerintahkan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten dan Dinas Koperasi dan UMKM selaku Panitia HUT Hari Jadi Kabupaten Malang 2018 ke 1258 agar segera menyerahkan uang hadiah tersebut.

“Saya sudah perintahkan untuk segera menyelesaikan masalah hadiah pemenang lomba batik tulis. Sebab, kas keuangan Pemkab Malang sebanyak Rp 750 miliar, masak uang hadiah pembatik belum diserahkan juga,” kata Sanusi dengan nada keheranan saat itu.

Ironisnya, hadiah batik yang tak kunjung diterima perajin saat itu, justru tak juga memperoleh respon. Sejumlah pejabat Pemkab Malang justru plesir ke Rusia dengan dalih Studi Banding. Plesir ke luar negeri dipimpin Sekda Kabupaten Malang, Didik Budi Muljono, juga diikuti 19 pejabat Pemkab Malang.

Sanusi kala itu membenarkan jika beberapa pejabat memang ke Rusia melakukan kunjungan kerja. Mereka berangkat bersama beberapa pejabat dilingkungan Pemkab Malang. “Ya benar, Pak Sekda dan sejumlah pejabat studi banding ke Rusia, kalau gak salah sejak tanggal 10 sampai 21 September 2019,” beber Sanusi.

Sebagai informasi, hadiah pemenang Lomba Batik Tulis 2018 jumlahnya tidak seberapa dibandingkan biaya akomodasi ke Rusia sebenarnya. Namun, bagi perajin batik tulis uang hadiah sebesar Rp 10 juta sangat berharga bagi perajin. Pemenang lomba batik kala itu diberi hadiah Rp 10 juta bagi juara pertama. Sedang juara memperoleh Rp 7,5 juta, dan juara tiga Rp 5 juta. Sedangkan Lomba Batik Tulis itu digelar dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Malang yang ke 1258 di tahun 2018.
Atas permasalahan itu, Koordinator LIRA Malang Raya, Zuhdy Achmadi mendesak penegak hukum agar mengusut tuntas kasus ini.

Menurut Didik sapaan akrabnya, patut dipertanyakan ke panitia pelaksana lomba.

“Siapa ketua panitianya, itu paling bertanggung jawab. Tidak benar hadiah lomba sampai dihutang. Dalam acara lomba apapun panitia tentunya sudah mempersiapkan hadiah yang akan diberikan kepada para pemenang,” ujar Didik, Sabtu (5/10/2019).

Ia menambahkan, giat tersebut untuk mengangkat potensi Kabupaten Malang di bidang batik yang akan mengangkat kearifan lokal. Apabila dana kegiatan tersebut dianggarkan melalui Dinas tertentu, maka kasus ini masuk Tindak Pidana Korupsi.

“Aparat penegak hukum harus turun untuk melakukan Pulbaket dan Puldata. Jika tidak, ini akan terus menjadi polemik di masyarakat dan sebuah preseden buruk bagi Pemkab Malang,” Didik mengakhiri. (yog/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar