Hukum & Kriminal

Persetubuhan di Bawah Umur, Dilakukan 10 Kali, Pernah di Kebun Jagung

Tersangka DP saat menjalani pemeriksaan di Polres Ponorogo. [Foto/Istimewa]

Ponorogo (beritajatim.com) – Ada fakta baru dalam kasus persetubuhan yang dilakukan tersangka DP (19), pemuda yang menghamili anak di bawah umur hingga melahirkan. Dalam pengakuannya kepada petugas, DP melakukan persetubuhan dengan FA (16), hingga 10 kali. Itu dilakukan dalam medio Oktober hingga Desember 2019.

“Dari pengakuan tersangka, persetubuhan itu dilakukan kurang lebih 10 kali,” kata Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Hendi Septiadi, Sabtu (10/10/2020).

Persetubuhan pertama kali dilakukan DP di perkebunan jagung Desa Sumpel, Kecamatan Jambon Sementara yang terakhir dilakukan di rumah tersangka di Desa Tegalombo, Kecamatan Kauman. Korban yang merupakan pacaranya itu sempat menolak tersebut.

Namun, korban tak kuasa setelah DP melakukan segala bujuk rayu. Selain itu tersangka meyakinkan korban bahwa kalau hamil, pelaku siap bertanggungjawab. “Persetubuhan pernah dilakukan di kebun jagung dan rumah tersangka,” kata Hendi.

Diberitakan sebelumnya, tindak pidana persetubuhan di bawah umur terjadi di Ponorogo. Pria berinisial DP (19), warga Desa Tegalombo Kecamatan Kauman ini menjadi tersangka saat ketahuan menghamili gadis di bawah umur yang berinisial FA (16), hingga melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan.

Kapolres Ponorogo AKBP Mochammad Nur Azis melalui Kasat Reskrim AKP Hendi Septiadi menyebut terungkapnya kasus itu berawal dari orangtua korban yang tidak terima anak perempuannya melahirkan di luar nikah. Selama kehamilan sang anak, orangtua korban mengaku tidak mengetahui.

Usai melahirkan, barulah korban mengaku kepada orangtuanya bahwa yang menghamilinya adalah DP, yang tidak lain adalah pacar korban. “Setelah mendapatkan laporan dari orangtua korban, kami langsung melakukan penyelidikan, hingga menetapkan DP sebagai tersangka,” kata Hendi,

Kisah asmara korban dan tersangka itu mulai terjalin pada Februari 2019. Selama itu tersangka yang tidak tamat SD itu selalu membelikan paket data internet dan tas supaya korban tambah sayang dan percaya pada tersangka. Nah pada medio Oktober-Desember 2019, jalinan asmara mereka semakin keblabasan dengan melakukan hubungan layaknya suami istri. Hingga puncaknya 20 September lalu, korban melahirkan bayi perempuan di rumah bidan desa setempat.

Karena korbannya masih di bawah umur, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan tersangka, Satreskrim Polres Ponorogo menjeratnya dengan pasal 81 dan pasal 82 Undang-Undang Republik Indonesia tentang perlindungan anak. Dengan ancaman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama mencapai 15 tahun.

“Tersangka kita jerat dengan Undang-Undang Perlindungan anak, dengan ancaman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun,” pungkasnya. [end/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar