Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Sidang Dugaan Penganiayaan ART

Perawat Liponsos Nyatakan saat Datang Tubuh Korban Banyak Luka

foto beritajatim.com
Terdakwa Firdaus Fairus, penganiaya ART, menjalani sidang diruang Cakra PN Surabaya, secara online, Senin (20/9/2021)

Surabaya (beritajatim.com) – Novia Anggita, salah satu perawat di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) dihadirkan di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (20/09/2021) oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siska Cristine.

Novia dimintai keterangan sebagai saksi dalam perkara dugaan penganiayaan yang dilakukan Terdakwa Firdaus Fairus terhadap seorang asisten rumah tangga (ART) Elok Anggraeni. Novia menjelaskan, saat pertama kali datang ke Liponsos tubuh Elok ada beberapa luka. Namun, luka tersebut tampak luka lama.

Hanya saja, ketika Novia mempertanyakan terkait luka itu, Elok tidak mau menjawab. Dia hanya membisu. Dan yang lebih banyak menjelaskan justru Terdakwa Fairus. “Kalau saya lihat, lukanya semua terlihat sudah lama. Luka baru itu hanya dipergelangan tangan kiri itu saja,” ujarnya.

“Kemungkinan itu masih sangat baru. Karena masih kelihatan bengkak dan memar. Jadi itu kelihatan masih jelas. Tapi, Elok tidak mau cerita ke saya. Yang cerita saat itu hanya bu Fairus terus,” lanjutnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Martin Ginting.

Novia mengakui kalau Elok tidak pernah terbuka dengan dirinya, terutama terhadap beberapa luka di tubuh wanita paruh baya itu, semua yang saksi Novia ketahui merupakan cerita dari orang. Tanpa ia mendengar dari elok atau menyaksikan peristiwanya langsung. “Saya hanya mendengar dari kata orang saja Yang Mulia,” kata Novia.

Hakim sempat mempertanyakan alasan Elok dibawa ke Liponsos. Lagi-lagi Novia memberikan jawaban yang tidak pasti. Hanya informasi dari orang lain. Tanpa dia mendengarkan langsung dari Elok atau terdakwa Fairus.

“Saya sih mendapat laporan bahwa, ibu Elok ini mengalami gangguan kejiwaan. Itu justru datang dan yang mengatakan dari pihak kelurahan. Tahu-tahu datang ke Liponsos begitu saja. Orang kelurahan yang antar saat itu menceritakan kalau Elok sering telanjang di depan rumah. Juga mandi di luar. Katanya ada bukti video. Tapi saya tidak melihatnya Yang Mulia,” celetuknya.

Elok berada di Liponsos hanya seminggu. Setelah itu, dirinya dibawa ke rumah sakit dan tidak kembali lagi ke Pondok Sosial itu lagi. “Sampai sekarang, Elok tidak lagi tinggal di Liponsos. Saya tidak tahu dia (Elok) tinggal di mana. Karena, ngakunya sih di sini tidak memiliki keluarga,” bebernya.

Perlu diketahui, dalam dakwaan JPU disebutkan bahwa peristiwa penganiayaan tersebut terjadi sejak Agustus 2020 hingga Mei 2021 di rumah Jalan Raya Manyar Tirtomoyo No 54, RT 01/RW 04, Surabaya. Korban Elok Anggraini Setiawati bekerja sebagai asisten rumah tangga terdakwa dan digaji Rp 1,5 juta setiap bulan.

Elok dipukul terdakwa menggunakan pipa paralon dan tangan kosong. Siksaan tidak hanya itu saja, ketika itu terdakwa menghukum saksi korban Elok didepan rumahnya. Dengan keadaan membungkuk saksi Elok dijemur dibawah terik matahari. Aksi itu diketahui oleh Satpam di perumahan.

Kemudian terdakwa juga sempat menaruh kotoran kucing pada makanan di piring saksi korban Elok. Saat itu terdakwa kesal lantaran ada kotoran kucing yang belum dibersihkan sepenuhnya oleh Elok. Terdakwa juga meminta terdakwa agar menyapu halaman rumah pada pukul 03.00 wib dan baru boleh tidur pukul 24.00.

Akibat perbuatan terdakwa, saksi korban mengalami sejumlah luka dan rasa trauma. Hingga akhirnya terdakwa di laporkan dan dikeler petugas Polrestabes Surabaya. [uci/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar