Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Penyidik Dilaporkan ke Propam, Kuasa Hukum Minta Jangan Mundur

Pengacara Andry Ermawan

Surabaya (beritajatim.com) – Pelapor dugaan pemalsuan surat dan keterangan palsu dalam otentik Djie Widya Mira Chandra Limanto melalui kuasa hukumnya Andry Ermawan meyakini bahwa proses pengalihan hak atas aset yang dimiliki oleh Tjahja Limanto ke Janny Wijono tidak sah dan menyebabkan kliennya merugi hingga Rp 100 miliar.

Untuk itu, Andry optimis laporan polisi no LP-B/123/III/RES.1.9/2021/UM/SPKT Polda Jatim yang saat ini ditangani penyidik Hardabangtah bisa menjerat Janny Wijono menjadi tersangka.

“Kami meyakini bahwa penyidik sangat profesional dalam menangani kasus ini, makanya kami mengapresiasi kerja penyidik karena kasus ini sudah cukup lama dan baru sekarang mulai ada titik terang. Saya berharap, penyidik jangan mundur meskipun dilaporkan ke propam,” ujar Andry.

Andry menceritakan, pelapor adalah anak kandung dari Tjahja Limanto dan Wijaya Dewi Kartika. Keduanya saat ini sudah meninggal dunia. Pernikahan antara Tjahja Limanto dan Wijaya Dewi Kartika tercatat dalam catatan sipil no 494/WNI/ 1972 tanggal 11 Agustus 1972 dan dari perkawinan tersebut telah dikaruniai enam anak salah satunya pelapor yakni Die Widya Mira Chandra Limanto (Pelapor).

“Ibu Pelapor Wijaya Dewi kartika meninggal dunia (karena kanker kambuh) pada 30 Desember 2003 di Rumah Sakit Darmo Surabaya dengan Akta Kematian No, 76/WNI/2004 tanggal 3 febuari 2004, selama dalam perkawinannya antara Tjahja Limanto dan almarhumah meninggalkan harta warisan dan gono gini yang belum dibagi,” ujar Andry yang juga wakil ketua Peradi Sidoarjo ini.

Pengacara asal Kepulauan Riau ini menguraikan harta warisan yang belum dibagi tersebut meliputi sebidang tanah yang terletak di Ji Raya Sukomanunggal 228/8 Surabaya sebagaimana dalam Sertifikat Hak Milik Nomor 18/Desa Lingkungan Sukomanunggal atas nama Tjahja Limanto.

Kemudian sebidang tanah dan bangunan yang terletak di jalan Coklat No 30 Surabaya, sebagaimana dalam Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 472/K Kelurahan Bongkaran atas nama Tjahja Limanto.

Pelapor dan anak-anak almarhumah Wijaya Dewi kartika juga Tjahja Limanto membuat Surat Keterangan Waris di Notaris Wahyadi 21/KHW/X/2009, tertanggal 02 Oktober 2009, yang dibuat dihadapan Wahyudi Suyanto, SH Notaris di Surabaya.

“Dan sampai sekarang harta waris gono gini tersebut belum dibagi,” ujar Andry yang juga ketua Indonesia Lawyer Shooting Club (ILSC) ini.

Andry menambahkan, pada tahun 2004- Oktober 2014 Tjahja Limanto divonis Alzheimer sebgaimana medical record dari rumah sakit di Singapura pada November 2004 bahwa penyakit ayah Pelapor tambah parah ditahun 2014 yang mana ayah Pelapor kolap dan harus dirawat di RS Darmo pada 22-29 Okt 2014.

“Saat itu pelapor dan adik-adiknya rutin setiap hari mengunjungi ayahnya dan pada akhirnya ayah pelapor kritis dan masuk ICU (dalam keadaan koma) selanjutnya diterbangkan ke Singapore dan pertengahan Desember 2014. Dan akhirnya, ayah pelapor sudah sadar diri namun masih dalam keadaan tidak baik karena menderia tiga penyakit berbahaya yakni kanker hati, demensia dan alzaimer akut,” ungkap Andry.

Sebelum Tjahja Limanto meninggal dunia pada 16 Agustus 2016 di tahun 2015 sudah dalam keadaan sakit dimana berdasarkan keterangan dari Dokter ahli di RS Polda Jatim Penyakit Alzeimer adalah penyakit otak, penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan bicara Sulit membuat keputusan.

Setelah Tjahja Limanto meninggal dunia, Pelapor dan adik-adiknya hendak mengurus surat keterangan waris di Notaris Wahyudi. Saat dilakukan pengecekan oleh notaris Wahyudi dan didapat ada pernikahan dan secara tiba-tiba keluar Penetapan dari Pengadilan Negeri Surabaya terkait Permohonan Pencatatan Nikah Nomor: 1092/pdt. P/2014/PN Surabaya antara Tjahja Limanto dengan Janny Wijono untuk melegalkan perkawinan mereka di Vihars Phalasanti tanggal 10 Oktober 2004.

“Bahwa setelah ditelusuri dua sertifikat atas nama Tjahja Limanto yang ada di Sukomanunggal dan di jalan Coklat semuanya telah berbalik nama menjadi Janny Wiyono berrdasarkan Akta Notaris/PPAT Hj Fatimah Ulifah, SH, Nomor 08 tanggal 18 Maret 2015 tentang kuasa untuk menjual,” ujar Andry.

Andry menangkap, banyak kejanggalan dalam peralihan hak atas aset yang dimiliki Tjahja Limanto yang diklaim dibeli oleh Janny Wijono tersebut. Sebab, dalam keseharian Tjahja Limanto untuk berkomunikasi tidak bisa memakai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, tetapi banyak mengunakan Bahasa Jawa ngoko (Suroboyoan) dicampur dengan bahasa Mandarin.

“ Dalam keadaan sakit, terutama Alzhaimer dan Demensia harusnya Tjahja Limanto tidak boleh melakukan perbuatan menjual, mengkuasakan segala sesuatu yang membuat keputusan Hukum,” ujar Andry.

Pada 8 Januari 2015, keluar penetapan perkawinan sah yang dikeluarkan PN Surabaya, kemudian pada 26 Januari 2016 muncul lagi penetapan bahwa Tjahja Limanto bisa menjual harta gono gini sendirian.

“ Dua penetapan ini dibuat Tjahja Limanto dalam keaddan tidak sehat dikarenakan baru sadar dari Koma dan ini dibuktikan tidak hadirnya Tjahja Limanto di persidangan (dikuasakan ke pengacara),” ujar Andry.

Andry menambahkan, untuk proses jual beli yang dilakukan Tjahja Limanto dengan Janny Wijono mestinya dibatalkan karena sesuai dalam pasal 1467 KUH Perdata bahwa pasangan suami isteri tidak bisa melalukan tranksaksi jual beli.

Andry juga meyakini bahwa tranksaksi jual beli yang dilakukan Tjahja Limanto dengan Janny secara tunai adalah tidak memungkinkan sebab bukti penyerahan uang sebesar Rp 21 Miliar tersebut tidak ada bukti.

Sebelumnya, kuasa hukum Terlapor Janny Wijono yakni Masbuhin menyatakan bahwa dalam kasus ini kliennya adalah pembeli. Dan seorang pembeli harus terlindungi hak-haknya. Apabila dikemudian hari ada masalah dalam proses jual beli, maka pihak penjual yang harus diminta pertanggungjawaban bukan pembeli.

Masbuhin juga membantah bahwa proses jual beli antara kliennya dengan ayah pelapor tidak sah lantaran status suami isteri, sebab pernikahan antara kliennya dengan ayah pelapor baru sebatas nikah agama dan belum tecatat dalam catatan sipil. [uci/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar