Hukum & Kriminal

Penjualan Sabu Sasar Pemulung, Surabaya Darurat Narkoba?

Pemulung yang menyimpan sejumlah paket sabu untuk layani pesanan dari rekan seprofesinya saat jalani gelar perkara di Mapolrestabes Surabaya, belum lama ini.(Manik Priyo Prabowo)

Surabaya (beritajarim.com) – Penyalahgunaan narkotika sudah tak lagi menyasar kalangan menengah ke atas lagi. Para pengedar dan gembong narkoba sudah menyasar kalangan menengah ke bawah.

Bahkan hampir semua profesi atau pekerja menjadi sasarannya. Belum lama ini Sat Narkoba Polrestabes Surabaya mengamankan seorang pemulung di Semampir. Pelaku yang diketahui bernama Slamet Riyadi (45) ini kesehariannya memulung sampah. Ia juga mengaku jika barang haram miliknya ini dijual ke pemulung sepertinya di Surabaya.

“Surabaya darurat narkoba saya katakan iya. Kenapa karena pemulung sampah saja sudah memakai dan menjual sabu, belum lagi kuli bangunan, dosen Untag, pekerja dunia malam, pengangguran dan bahkan siswa. Selain itu sejarah mengungkap sabu 140 kg dan 7 juta pil koplo juga menjadi penanda kota ini (Surabaya.red) darurat narkoba,” papar Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Memo Ardian kepada beritajatim.com, Minggu (5/7/2020).

Lebih lanjut Memo menjelaskan, selain sejumlah pekerja, Kota Surabaya juga diindikasi memiliki kampung narkoba. Menurut analisa intelijen kepolisian, kampung ini memiliki pasar narkoba cukup besar. Untuk sasarannya, pihak kepolisian masih melakukan pengumpulan data dan bukti. Oleh sebab itu pihaknya membutuhkan waktu untuk mendeteksi kampung mana yang menjadi sasaran gembong narkoba ini.

Foto: ilustrasi

“Kita awalnya mengamankan 5 gram sabu dan berujung gembong narkoba dengan kepemilikan 100 kg sabu. Saya yakin tidak hanya 100 kg sabu saja, karena tiga karung atau tas disita satu karung utuh berisi 50 kg. Dua karung sudah terbuka dan berisi 20 dan 30 kg. Artinya masih ada 50 kg yang belum diamankan. Apakah sudah dijual atau tersimpan kita masih teliti,” tegasnya.

Sementara itu, para pelaku narkoba yang diamankan petugas rata-rata dikontrol oleh narapidana (napi.red) di lapas Jatim. Menurut kepolisian para napi ini memesan sabu dan mengontrol proses jual belinya dari dalam lapas. Padahal dari perbuatannya para napi,  pelaku terancam dijerat pasal 114 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara atau hukuman seumur hidup. Meski demikian, para napi justru masih bisa bergerak bebas dan mengontrol peredaran dsri dalam lapas.

“Kita harapkan bisa memecahkan kepemilikan sabu yang diprediksi 150 kg lebih ini. Yak hanya itu sabu dari dua negara yakni China dan Iran ini juga bisa ditekan seminimal mungkin. Karena surabaya sudah semua kalangan menjadi sasaran gembong narkoba,” pungkasnya.(man/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar