Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Penipuan Rekrutmen CPNS Diduga Libatkan Kepala Samsat Jawa Timur

Sidoarjo (beritajatim.com) – Perkembangan perkara penipuan rekrutmen CPNS yang diduga melibatkan Kepala Samsat Jatim berinisial SB, dengan terlapor ES (anak SB) warga Desa Wage, Taman, Sidoarjo atau Kelurahan Penjaringan, Rungkut, Surabaya, sampai saat ini, belum ada perkembangan.

Padahal perkara penipuan rekrutmen CPNS itu sudah dilaporkan oleh korban RW (22) warga Buduran, Sidoarjo, pada tanggal 16 Agustus 2021 silam, ke SPKT Polresta Sidoarjo.

Rudi Wijaya mengatakan pasca melaporkan perkara penipuan rekrutmen CPNS itu, dirinya sudah beberapa kali dipanggil oleh penyidik Satreskrim Polresta Sidoarjo, untuk dimintai keterangan.

Namun sampai saat ini, perkara penipuan dengan terlapor ES dan diduga juga melibatkan Kepala Samsat Jatim berinisial SB itu, belum ada penetapan tersangka. “Sampai saat ini, perkembangannya belum signifikan mas. Terakhir saya dipanggil oleh penyidik Senin kemarin,” katanya Rabu (15/6/2022).

Rudi menjelaskan keterkaitan dugaan keterlibatan SB dalam penipuan itu adalah berawal saat korban RW mentransfer uang sebesar Rp 35 juta ke rekening atas nama ES (anak SB, red). Kemungkinan uang itu diserahkan ke SB. Karena SB mengakui menerima uang muka sebesar Rp 35 juta untuk biaya menjadi PNS di Dispenda Sidoarjo.

Dan hal tersebut dikuatkan dengan surat perjanjian yang ditandatangani oleh SB dan sebagai saksi perjanjian itu adalah terlapor ES (anak kandung SB). Surat perjanjian itu ditandatangani pada 30 Agustus 2019 silam, dengan materai Rp 6000.

Bukti. Chat korban RW dengan ES

Dalam surat perjanjian itu, tertulis “menyatakan telah menerima uang sebesar Rp 35.000.000 ( tiga puluh juta rupiah) dari Rudi Wijaya untuk biaya DP masuk Pegawai Negeri Sipil bagian kasi di wilayah Sidoarjo Jawa Timur.

“Jika tidak ada sesuainya pekerjaan tersebut dan tidak di tempatkan sesuai perjanjian di atas, kami akan mengembalikan uang secara utuh tanpa dipotong sama sekali, dan batas masuk kerja maksimal Agustus 2020, jika sampai bulan tersebut belum bekerja, uang akan dikembalikan secara utuh” bunyi isi tulisan dalam perjanjian itu.

Namun setelah setahun perjanjian itu berjalan, korban belum mendapatkan pekerjaan yang dijanjikan oleh SB maupun ES. Tak hanya sampai disitu, uang korban pun juga tak dikembalikan oleh SB.

Sebelum melaporkan perkara itu ke Polresta Sidoarjo, korban sempat mengingatkan terlapor ES, untuk mengembalikan uangnya. Jika uang tersebut tidak dikembalikan maka korban akan melaporkan ke polisi.

Namun tanggapan ES, malah menantang untuk melaporkan ke Polisi dan perkataan ES terkesan seperti orang yang bisa mempermainkan hukum.

“Terlapor ES sempat mengirim pesan singkat ke saya, “Aku masuk sehari bs d tebus bapaku, uangmu gk balik …,” ungkap RW membacakan pesan di ponselnya.

Sementara itu Kasubsi PIDM Humas Polresta Sidoarjo Iptu Tri Novi Handono pada bulan lalu, tepatnya Minggu (8/5/2022) sudah memberikan keterangan dan berjanji pihak kepolisian akan menuntaskan kasus tersebut. (isa/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar