Hukum & Kriminal

Penipuan Berkedok Rekrutmen CPNS, Kades di Mojokerto Kembali Diamankan

Foto ilustrasi
Mojokerto (beritajatim.com) – Kepala Desa (Kades) Ngrame, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Abdul Mukti (55) diamankan di Balai Desa setempat, Rabu (15/4/2020) kemarin.
Ini menyusul, residivis kasus penipuan berkedok rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) ini dilaporkan telah menipu warga dengan kerugian sebesar Rp 118 juta.
Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Primayoga mengatakan, pelaku diamankan setelah adanya laporan dari korban, Efendi Hariyanto (50) warga Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
“Korban melaporkan pelaku pada bulan Agustus 2019 lalu. Pelaku dilaporkan telah menipu korban sebesar Rp118 juta,” ungkapnya, Kamis (16/4/2020).
Masih kata Kasat, pelaku diduga melakukan penipuan dan penggelapan dengan modus sebagai makelar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di wilayah Kabupaten Mojokerto. Setelah melakukan penyelidikan, penyidik menemukan adanya unsur tindak pidana dan dikuatkan dengan barang bukti berupa empat foto kopi kwitansi pembayaran.
“Saat korban melaporkan, kita mengamankan 4 buat kwitansi. Dalam pemeriksaan 1 x 24 jam serta barang bukti yang cukup, kami akhirnya langsung melakukan penahanan terhadap pelaku. Sebelum penahanan, kepala desa ini sudah tiga kali mengabaikan panggilan petugas,” katanya.
Sehingga, lanjut Kasat, upaya jemput paksa harus dilakukan dua petugas setelah pelaku mangkir dari panggilan kepolisian. Tidak ada perlawanan dilakukan pelaku saat dilakukan upaya penangkapan di balai desa setempat. Aksi penipuan tersebut terjadi 2017 lalu dengan modusnya tak jauh berbeda dengan kasus yang menjerat pelaku sebelumnya.
“Pelaku mengiming-iming bisa menjadikan korban sebagai PNS melalui jalur patas, namun korban harus menyerahkan uang pelicin sebagai pengganti tes. Karena keduanya sudah saling kenal, sehingga korban tertarik dan keduanya sepakat uang pelicin sebesar Rp 140 juta. Dengan syarat, anak korban bisa jadi PNS guru,” jelasnya.

Baca Juga:

    Korban kemudian melakukan pembayaran kepada terlapor secara bertahap dengan total Rp118 juta. Namun hingga saat ini, anak korban belum juga menjadi PNS seperti yang dijanjikan pelaku. Korban beberapa kali meminta uangnya kembali, namun pelaku hanya berjanji sehingga korban pun melaporkan aksi penipuan yang dilakukan pelaku ke Mapolres Mojokerto.
    Akibat kejadian ini korban mengalami kerugian sebesar Rp118 juta. Pelaku sendiri merupakan residivis kasus yang sama. Tahun 2017, pelaku menjalani hukuman 14 bulan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB dan bebas pada tahun 2018. Namun aksi pelaku kembali dilakukan di tahun 2019 dengan modus yang sama, rekrutmen CPNS.[tin/ted]




    Apa Reaksi Anda?

    Komentar