Hukum & Kriminal

Pengoplos Beras BPNT Mengaku Belajar ‘Ngoplos’ dari Gudang Lain

Sumenep (beritajatim.com) – Penyidik Polres Sumenep tengah mengembangkan kasus pengoplosan beras untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), di wilayah setempat.

“Kami masih mendalami keterangan yang disampaikan pemilik gudang. Katanya dia belajar ngoplos beras dari gudang lain. Kami akan selidiki itu,. Apa memang benar ada gudang lain yang juga ngoplos, terus gudang mana itu,” kata Kapolres Sumenep, AKBP Deddy Supriadi, Sabtu (29/02/2020).

Pada Kamis (27/02/2020), Polres Sumenep menggerebek sebuah gudang beras di Jalan Merpati, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep. Di gudang beras dengan nama UD YDT ART itu terjadi pengoplosan beras untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Saat digerebek, polisi menemukan ada 10 ton beras yang sudah dioplos dan rencananya akan didistribusikan ke agen di wilayah Pulau/Kecamatan Giligenting. Beras tersebut masing-masing dibungkus dengan kemasan 5 kg sebanyak 2 ribu karung. Beras itu sudah dinaikkan di atas truk bernomor polisi M 8267 UV.

Modus pengoplosan beras di gudang milik L dan I itu, beras keluaran Bulog dicampur dengan beras tanpa merek (beras dari petani). Beras-beras itu kemasannya dibuka, kemudian dituangkan di lantai dan dicampur. Setelah itu beras disemprot dengan cairan pandan. Beras kemudian diangin-anginkan beberapa menit. Setelah kering, beras yang sudah dioplos dan disemprot itu dikemas kembali dalam karung 5 kg, diberi merk Ikan Lele Super.

“Untuk cairan pandan yang disemprotkan di beras oplosan itu apakah berbahaya atau tidak, kami masih menunggu hasil uji laboratorium,” terang Deddy. (tem/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar