Hukum & Kriminal

Penggugat Class Action Tragedi Kanjuruhan, Atoilah Mengaku Masih Trauma

Malang (beritajatim.com) – Sidang gugatan Class Action Tragedi Kanjuruhan kembali digelar, Kamis (5/1/2023) siang ini.

Sidang di Ruang Candra Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, dihadiri seluruh tergugat yakni diwakilkan. Para tergugat terdiri dari Bupati Malang, Panglima TNI, Kapolri, Direktur PT LIB dan Ketua Panpel Arema FC Melawan Persebaya Surabaya.

Sidang gugatan perdata ini, dilakukan oleh Atoilah, warga Desa Lumbangsari, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang yang menjadi korban Tragedi Kanjuruhan. Atoilah bersama anaknya, mengalami luka-luka saat Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 lalu.

Menurut Atoilah, ia melayangkan gugatan Tragedi Kanjuruhan untuk mencari keadilan. “Mudah mudahan dengan langkah ini (gugatan Class action-red) bisa berhasil bagi korban Arema FC,” tegas Atoilah sesuai sidang.

Ditanya apakah masih ada trauma dan luka? Atoilah mengaku masih ada rasa sakit di bagian kaki. “Masih ada rasa sakit di kaki. Karena saya sempat terinjak injak. Tulang bagian dalam masih bengkak, gak bisa normal. Kalau luka di mata sudah hilang. Kalau anak saya masih trauma, kelas 5 SD,” tuturnya.

Untuk gugatan perdata senilai Rp 146 miliar, pihaknya berharap seluruh korban tragedi Kanjuruhan bisa memperoleh hak nya. Danbb itu, akan diserahkan pada panitia dan kuasa hukumnya.

“Class Action ini harapan saya juga untuk korban korban tragedi Kanjuruhan yang lain. Bukan untuk saya sendiri,” terang Atoilah. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar