Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Penggugat Ajukan Bukti Kepemilikan dan Dugaan Pelanggaran di Lahan Puncak Permai

Surabaya (beritajatim.com) – Sidang gugatan atas tanah di Darmo Puncak Permai kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (12/10/2021). Sidang dengan nomer perkara 374/Pdt.G/2021/PN.Sby dengan penggugat Mulyo Hadi dan tergugat Widowati Hartono ini mengagendakan penyerahan bukti dari pihak penggugat.

Ada banyak bukti yang diserahkan oleh penggugat, diantaranya adalah bukti kepemilikan dan bukti lainnya yang diduga terkait dengan gugatan ini. Yakni adanya penyerbuan yang dilakukan kurang lebih 200 orang dimasa PPKM darurat pada tanggal 9 Juli 2021 yang diduga menimbulkan korban jiwa (meninggalnya kuasa hukum Mulya Hadi diduga terpapar covid pada saat kejadian).

“Setelah adanya penyerbuan tersebut, tanah sengketa ini dibangun oleh pihak tergugat dibangun tembok. Tapi oleh aparat setempat cenderung dibiarkan,” ujar kuasa hukum Penggugat, Selasa (12/10/2021).

Johanes Dipa menambahkan, harusnya aparat konsekuen dalam menangani perkara ini, sebab ketika pihaknya jadi terlapor dinyatakan tanah tersebut status quo. Tapi di sisi lain pada 9 Juli 2021 ada penyerbuan dan ditindaklnjuti dengan pembangunan tembok, tapi dibiarkan.

“Harusnya kan konsekuen ini status quo ya status quo tidak boleh ada yang melakukan aktifitas disana. Ini ada pihak lawan yang melakukan pembangunan tembok tapi dibiarkan,” ujarnya.

Dipa menambahkan, dengan adanya fakta yang demikian maka ada kecenderungan ketidakprofesionalan aparat. Terlebih lagi dalam objek sengketa merupakan locus delicti adanya pertistiwa pidana penganiayaan, perusakan tapi tetap tidak dilakukan police line.

“Harusnya penyidik bersikap tegas dengan melakukan police line, paling tidak para pihak yang berkaitan dengan periatiwa ini tidak melakukan aktifitas disana. Tapi ketika pihak sana menempati disana, malah dibiarkan. Ada apa ini?,” ujar Dipa.

Dipa berharap peristiwa yang terjadi di Surabaya ini menjadi perhatian pemerintah pusat. Dalam arti, apabila semangat mereka memberantas mafia tanah, maka di Surabaya inilah adanya peristiwa yang diduga melibatkan mafia tanah.

“Surat Hak Guna Bangunan (SHGB) yang dimiliki Widiowati Hartono ini ternyata tidak jelas warkahnya, bagaimana mungkin SHGB No 4157 tertulis Pradahkalikendal tapi menunjuk lokasi di daerah Lontar. Ibaratnya punya BPKB BMW tapi nunjuknya mercy kan ga masuk akal,” ujarnya.

Untuk itu pihaknya menunggu ketika pembuktian dari pihak Tergugat terutama terkait bukti hak yang dimiliki Tergugat letaknya dimana. Terkait perkembangan kasus pidana dugaan perusakan sangat disayangkan oleh Johanes Dipa sebab berjalan sangat lambat.

Apalagi, tim penyelidik juga masih mempertanyakan siapa yang melakukan pengrusakan. “Lha kalau ditanya orangnya satu-satu yang nggak mungkin kenal wong itu diduga preman. Tapi ketika kita tinjau lokasi disana dengan penyelidik bersama klien saya setelah adanya peristiwa perusakan,” ujarnya.

“Penyelidik saat itu nanya dimana resplang itu? Logika sederhana, kalau dia bukan pihak yang terlibat di sana nggak mungkin dia bisa menunjukkan dengan pasti di mana resplang itu disimpan. Lha ini dia bisa menunjukkan dimana lokasi resplang itu yakni di rumah RT dan setelah kita cek ternyata RT itu bukan RT Pradah Kendal maupun Lontar. RT tersebut dengan jelas menyatakan bahwa orang yang menaruh disini adalah orang suruhan, hal itu kita dengar sendiri,” lanjutnya.

Sementara pengacara Tergugat yakni Adi Darma enggan berkomentar banyak, yang jelas pihaknya fokus pada bukti yang akan diajukan minggu depan. “Kita fokuskan dulu pembuktian dari tergugat dan turur tergugat,” katanya singkat. [uci/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar