Hukum & Kriminal

Sidang Jalan Raya Gubeng Ambles

Pengacara Terdakwa Kecewa Keterangan Saksi

Surabaya (beritajatim.com) – Sidang kasus amblesnya jalan Raya Gubeng kembali mendatangkan saksi, untuk sidang ketiga ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmat Hari Basuki dan Dini Ardhany mendatangkan saksi Ahmad Eddy Susapto dari PT Testana Enginering selaku konsultan perencanaan proyek pembangunan Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Dalam keterangannya, saksi mengungkapkan jika pihaknya dari sisi perencanaan semua sudah dilakukan sesuai perencanaan pembangunan pengembangan RS Siloam telah sesuai rencana.

Hanya saja dilaksanakan atau tidak, itu tergantung dari kontraktor pelaksana.

Saksi berasumsi bahwa tidak ada yang salah dalam perencanaan yang dia buat.

Tim perencanaan hanya melihat data tanpa melakukan survey dan kajian tehnik di lapangan.

Dua bulan sebelum peristiwa ambles, tepatnya bulan Oktober tim perencanaan melakukan pengecekan dan hasilnya semua dalam keadaan stabil.

Saksi juga menyebut jika dalam perencanaan disebutkan bahwa pembangunan basement empat lantai sedangkan pembangunan ke atas 22 lantai, hal itu tidak sesuai IMB yang dikeluarkan Pemkot Surabaya yakni empat lantai basement dan 26 lantai ke atas.

Saksi juga membenarkan bahwa pihaknya yang membuat lima rekomendasi pada tim pelaksana yakni tidak disarankan penggunaan beton pracetak.

Disarankan agar menggunakan Bor Pile. Soal elevasi tanah yang cukup tinggi diperlukan tindakan-tindakan khusus.

Agar dikakukan perhitungan terhadap galian dengan menggunakan Zonder Pile.

Pekerjaan harus menggunakan instrumentasi pengamanan.

” Iya benar, itu memang rekomendasi kami,” ujar saksi, Senin (14/10/2019).

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa yakni Martin Suryana menyatakan kecewa atas keterangan saksi yang cenderung lepas tangan dan selesai ketika perencanaan sudah selesai dilakukan.

” Kalau orang membangun tentu diserahkan ke perencanaan. Bangunan apa pun kata kuncinya adalah perencanaan. Pekerjaan perencana ini dari hulu ke hilir. Dari awal sampai akhir dan ada unsur pengawasannya dan dia tidak boleh mengatakan suatu perencanaan itu kalau sudah dibuat ya sudah terserah mau dilaksanakan apa tidak dilapangan, nggak boleh seperti itu . Dia punya tanggung jawab yang melekat,”terang Martin Suryana.

Menurut Martin, Kejadian longsornya jalan Gubeng bukanlah peristiwa luar biasa.

Martin menyebut bahwa, peristiwa longsornya jalan gubeng tersebut diluar teknis.

” Ada rekam laporan sejak bulan Oktober 2017 dan selang dua bulan terjadilah peristiwa itu. Di RKS 2017, sebetulnya ada alat yang telah dipasang untuk mengukur pergeseran tanah namanya inklumumeter. Hasilnya stabil dan laporannya Sudah bisa dibaca mulai Januari hingga Agustus,”jelas Martin.

Sementara saat disinggung terkait perijinan IMB yang melebihi saran dari tim perencanaan yakni naik empat lantai dari 22 lantai menjadi 26 lantai, Martin mengungkapkan, bahwa IMB yang dikeluarkan Pemkot Surabaya adalah untuk Ijin pengerjaan 3 basement dan 26 lantai.

” Perlu digaris bawahi. Pada saat kejadian pekerjaan Upper belum dilakukan. Baru struktur baru bangun Basement jadi tidak ada kaitan dengan pekerjaan Upper,”pungkasnya.

Perlu diketahui, dalam kasus ini mendudukkan enam terdakwa. Tiga terdakwa dari PT Nusa Konstruksi NKE, yakni Budi Susilo Direktur Operasional, Aris Priyanto Site Manager, dan Rendro Widoyoko Project Manajer.

Sedangkan tiga terdakwa lainnya yakni yakni Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian, dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono. Mereka dari PT Saputra Karya. [uci/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar