Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Pengacara Notaris Edhi Tegaskan Ada Pernyataan tentang Perubahan Sertifkat

Surabaya (beritajatim.com) – Sidang dugaan pemalsuan surat, yang mendudukkan Edhi Susanto dan Feni Talim sebagai terdakwa, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (23/6/2022). Sidang digelar dengan agenda pemeriksaan saksi yakni Hardi Kartoyo saksi pelapor, saksi korban Itawati dan saksi Kho Untung.

Kuasa hukum Edhi Susanto yakni Ronald Tallaway menyebut, dalam persidangan terungkap bahwa berdasarkan pernyataan yang telah diserahkan oleh notaris Edhi Susanto kepada Hardi kartoyo (korban) jelas menyebutkan ada perubahan sertifikat yang harus dilakukan.

“Dan dalam somasi yang dilakukan Hardi Kartoyo sebelum melapor ke polisi, jelas tidak mempermasalahkan perubahan sertifikat,” ujarnya.

Alasannya karena yang berubah hanya sampul lambang Bola Dunia ke sampul berlambang Garuda. “Tanpa mengubah kepemilikan, meskipun adanya perubahan luas karena akibat reland pun tidak mempengaruhi kesepakatan harga jual beli,” tegas Ronald.

Ia menambahkan, justru perubahan sampul sertifikat jelas-jelas adalah pemenuhan syarat formal dalam transaksi jual beli tanah tersebut. “Tadi Pak Hardi Kartoyo dalam persidangan menerangkan bahwa dirinya atau istrinya Itawati tidak pernah memberikan kuasa kepada para terdakwa untuk merubah sampul sertifikat,” pungkas Ronald.

Dalam surat dakwaan dijelaskan, perkara ini berawal saat Hardi Kartoyo berniat menjual tiga bidang tanah dan bangunan kepada Tiono Satria Dharmawan pada 2017. Ketiga SHM atas nama Itawati Sidharta yang berlokasi di Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya tersebut sesuai kesepakatan dijual dengan harga Rp 16 miliar.

Sesuai rencana, pembelian tanah tersebut akan dibiayai oleh Bank Jtrust Kertajaya. Atas kesepakatan tersebut, notaris Edhi Susanto kemudian ditunjuk untuk memfasilitasi proses jual-beli tersebut. Kemudian untuk realisasi pembiayaan tersebut diperlukan pembaharuan blanko SHM atas tanah yang dibeli.

Untuk memproses jual-beli antara Hardi Kartoyo dan Tiono Satrio, diperlukan sejumlah perubahan dalam perjanjian, diantaranya perubahan sampul sertifikat yang lama (gambar bola dunia) menjadi gambar Garuda. Untuk merubah tersebut perlu tanda tangan penjual yakni Hardi Kartoyo.

Kemudian sesuai dakwaan, notaris Edhi Susanto dituding telah memalsukan tanda tangan tersebut. Atas perbutannya, notaris Edhi Susanto didakwa pasal 263 ayat (1) KUHP. [uci/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar