Hukum & Kriminal

Pengacara Klinik L’Viors Tegaskan Stella Monica Bukan Curhat di Medsos Tapi Framing

Pihak L’Viors melalui dr. Irene Christilia Lee dan dr. Maria Shintya Dewi didampingi penasehat hukumnya H.K Kosasih menyampaikan klarifikasi terkait pemberitaan yang memojokkan pihaknya.

Surabaya (beritajatim.com) – Baru-baru ini nama Stella Monica (SM) begitu populer karena mengunggah wajahnya yang rusak dan diklaim disebabkan karena perawatan yang dia lakukan di L’Viors.

Tak hanya itu, SM juga mengunggah komentar yang menyudutkan pihak L’Viors, yang akhirnya kasus ini pun berujung ke meja hijau.

Banyak pihak menyayangkan langkah hukum yang dilakukan pihak L’Viors, mereka menilai bahwa apa yang dilakukan SM hanyalah bentuk curhatan di media sosial.

Disisi lain, pihak L’Viors menganggap bahwa langkah hukum ini tidak serta mereka dilakukan namun sebelumnya juga sudah dilakukan upaya lain diantaranya adalah somasi.

Sampai akhirnya perkara ini dilaporkan ke Polda Jatim dengan dugaan melanggar Pasal 27 ayat 3 Jo Pasal 45 ayat 3 UU No. 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan kini mulai disidangkan di PN Surabaya.

Pihak L’Viors melalui dr. Irene Christilia Lee dan dr. Maria Shintya Dewi didampingi penasehat hukumnya H.K Kosasih menyampaikan klarifikasi terkait pemberitaan yang memojokkan pihaknya.

Menurut dr Irene, SM  menjalani perawatan wajahnya di Klinik Kecantikan L’Viors sejak Februari 2019. Pertama kali datang, wajah Stella Monica  dalam kondisi penuh jerawat dan dia melakukan konsultasi terkait jerawatnya tersebut.

“Wajah Stella Monica banyak jerawat yang merah-merah. Setelah itu dokter di L’Viors memberikan solusi dan solusinya adalah dengan memberikan terapi wajah secara berkala dan harus intens,” kata Irene.

Wajah Stella Monica pun mulai di treatment dengan menggunakan obat-obatan yang sudah teruji secara klinis dan memenuhi standar kesehatan.

“Begitu juga dengan tenaga medis yang merawat Stella Monica dan terapi yang dilakukan kepada Stella Monica, semuanya sudah sesuai SOP. Begitu juga dengan obat-obat yang diberikan untuk mengobati wajah Stella Monica,”papar Irene.

Sementara itu, dr. Maria Shintya Dewi menambahkan, sejak melakukan perawatan di Klinik Kecantikan L’Viors mulai Februari 2019, hingga September 2019, Stella Monica baru lima kali menjalani pengobatan.

Stella Monica datang untuk kelima kalinya September 2019. Sejak itu, SM tidak pernah lagi melakukan perawatan wajah di klinik L’Viors.

“Stella Monica tidak lagi datang ke klinik untuk melanjutkan perawatan wajahnya, bahkan tidak pernah kontrol ke kita,” kata Maria.

“Hingga kemudian, lanjut Maria, diketahui Stella Monica mengunggah keluhan atas perawatan wajahnya di instagram pada Desember 2019,” lanjut Maria.

Klinik L’VIORS tentu terkejut melihat unggahan Stella Monica  itu karena tidak sesuai dengan fakta. Sebab, meski baru lima kali menjalani perawatan di Klinik L’Viors, kondisi jerawat di wajah Stella mulai membaik. Kondisi ini terlihat di kegiatan perawatan terakhir, sekitar September 2019.

“Sejak tidak lagi datang ke Klinik L’VIORS untuk melanjutkan perawatan wajahnya, Stella Monica ternyata telah datang dan menjalani perawatan wajah di klinik kecantikan lain di Surabaya,” ujar Maria.

Masih menurut Maria, ketika Stella Monica tidak pernah datang untuk menjalani perawatan di Klinik L’Viors tanpa ada pemberitahuan apa-apa, padahal Stella Monica tahu bahwa saat itu ia masih dalam program perawatan berkala dan belum selesai 100 persen, maka Stella Monica bukan lagi sebagai pasien Klinik L’Viors.

Apalagi, pihak Klinik Kecantikan L’Viors mengetahui bahwa Stella Monica malah melakukan perawatan wajah di klinik kecantikan lain di Surabaya.

Terkait unggahan Stella Monica di media sosial Instagram yang dinyatakan Stella Monica sebagai curhat, H.K Kosasih, kuasa hukum Klinik L’Viors menyatakan bahwa itu bukanlah curhat, namun telah masuk dalam unsur pencemaran nama baik.

Lebih lanjut Kosasih menjelaskan, unggahan yang dilakukan Stella Monica dilakukan secara sadar dan sengaja di Instagram, yang berisi potongan-potongan percakapan antara Stella Monica dengan temannya yang pada intinya seolah-olah SM telah mendapatkan pelayanan buruk di Klinik L’VIORS.

“Menurut kami, ketika SM tidak puas dengan pelayanan di Klinik L’VIORS, dia seharusnya datang dan menyampaikan keluhannya kepada pihak-pihak yang berkompeten di klinik, seperti dokter yang melakukan perawatan wajahnya, bukan menuduh di media sosial seperti Instagram yang dapat dikomentari siapa saja. Orang-orang yang berkomentar tersebut tidak mengerti apa permasalahan yang sebenarnya”ujar Kosasih.

Dengan mengunggah tuduhan yang belum pasti kebenarannya untuk disebarluaskan, lanjut Kosasih, disertai foto-foto yang berisikan percakapan dengan teman-temannya di media sosial instagram, maka sesungguhnya SM telah melakukan framing terhadap Klinik L’Viors.

“Framing yang dibangun Stella Monica adalah bahwa Klinik L’Viors dalam melakukan perawatan wajahnya, menggunakan obat-obatan yang justru memperparah kondisi jerawat di wajahnya. Framing yang dibuat SM sangat merugikan nama dan reputasi Klinik L’Viors,” tegas Kosasih.

Pelaporan yang dilakukan Klinik L’Viors terhadap SM menurut Kosasih bukanlah sebagai bentuk kriminalisasi. Itu merupakan konsekuensi hukum yang harus diterima SM  karena telah merugikan Klinik Kecantikan L’Viors.

“Tidak ada kriminalisasi. Laporan yang dibuat Klinik L’Viors ke polisi, bukan pula sebagai upaya balas dendam untuk mempidanakan Stella Monica. Apa yang Stella Monica dilakukan di instagram apalagi dilakukan dengan cara framing, mempunyai konsekuensi hukum, bukan hanya bagi Stella Monica namun siapa saja yang telah melakukan pencemaran nama baik didunia maya dan itu telah diatur dalam undang-undang,” tegas Kosasih.

Oleh karena itu, dalam tanggapannya, Kosasih meminta kepada semua pihak, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langdung, termasuk kepada masyarakat supaya bisa menyikapi permasalahan ini dengan bijak.

“Perkara Stella Monica, saat ini telah berproses di PN Surabaya. Kami selaku kuasa hukum dari Klinik L’VIORS menghimbau kepada semua pihak yang aktif terlibat melakukan pembelaan terhadap Stella, di dalam dan di luar pengadilan, agar menghormati proses hukum yang sedang berjalan,” tandasnya.

Silahkan melakukan pembelaan terhadap Stella, lanjut Kosasih, namun sesuai ketentuan hukum acara, disertai pembuktian dalam persidangan.

Pengacara Stella: Hak Konsumen

Sementara pihak Stella Monica melalui kuasa hukumnya Habibus akan melalukan eksepsi dalam sidang yang akan digelar pada Rabu (28/4/2021).

Dijelaskannya apa yang disampaikan pihak kuasa hukum L’Viors itu hak mereka. Stella sebagai konsumen harus dilindungi oleh UU Konsumen. Berhak menyampaikan pendapat atau kritik. Mestinya tidak dijawab dengan mempidana.

“Apapun statemennya tidak masalah, karena publik yang menilai. Jadi bukan niat framing. Jadi jelas ini Stella ini korban, mestinya Stella justeru harus dilindungi sebagai konsumen,” ujar Habibus.[uci/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar