Hukum & Kriminal

Penderita Stroke di Kediri Diduga Dianiaya Kerabat Sendiri

Kediri (beritajatim.com) – Seorang perempuan paroh baya yang tengah menderita penyakit stroke di Kabupaten Kediri diduga dianiaya oleh kerabatnya sendiri. Korban dipukul, ditendang, dan disemprot air pada bagian telinganya.

Nasib malang ini dialami oleh Siti Mariyam (52) warga Dusun Tegalrejo, Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Janda memprihatinkan ini diduga dianiaya oleh Nurhayati dan Sumarmi.

Penganiayaan itu diduga diterima korban, sewaktu ia masih tinggal bersama kedua kerabatnya tersebut. Siti Mariyam diasuh oleh Nurhayati dan Sumarmi secara bergantian, setelah Sunarmi, ibunya meninggal dunia.

Ditengarai karena kesulitan dalam merawat korban, pelaku kemudian berlaku kasar. Perlakuan pelaku tersebut baru diketahui, setelah korban bercerita kepada Linda, keponakannya.

“Awalnya saya mendengar cerita dari para tetangga apabila korban terluka karena penganiayaan. Kemudian saya datang ke rumah bu Sumarmi untuk melihat. Ternyata benar, korban mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Korban kemudian ikut dengan saya,” kata Linda di rumahnya Desa Langenharjo, Rabu (17/7/2019).

Siti Mariyam semula dirawat oleh bibinya. Setelah saudara dari ibunya meninggal dunia, kemudian korban tinggal bersama Sumarmi dan Nurhayati, pada Maret 2019 lalu.

Selama lima bulan, korban berada di rumah Sumarmi. Karena salah satu anak Sumarmi melahirkan, korban kemudian dibawa ke rumah Nurhayati. Di rumah itulah korban diduga dianiaya.

Korban mengaku, pernah dipukul, ditendang dan disemprot air ke bagian telinga sewaktu memandikan. Akibatnya, korban mengalami luka lebam pada bagian punggung, pelipis mata dan tengkuk lehernya, serta luka bekas cakaran di lengan tangan kirinya.

Pihak keluarga korban Sumilan, selaku ayahnya telah melaporkan Nurhayati dan Sumarmi ke Polres Kediri. Keluarga menduga, pelaku menganiaya korban untuk menimbulkan efek trauma psikologis, sehingga dapat mudah untuk menguasai harta peninggalan orang tua korban.

Pasalnya, sebelum meninggal dunia, Sunarmi ibunya baru saja menjual sebidang tanah seharga Rp 450 juta rupiah untuk biaya pengobatan, serta meninggalkan bangunan rumah untuk korban.

“Dugaan motivnya, pelaku ingin membuat trauma dan rasa takut supaya korban patuh kepada yang merawat. Sehingga, apabila pelaku ingin menguasai hartanya bisa secara mudah,” kata Taufiq Dwi Kusuma, selaku kuasa hukum keluarga korban.

Selain tindak pidana penganiayaan, pihak keluarga juga melaporkan kedua Nurhayati dan Sumarmi dengan tuduhan telah melakukan penggelapan sejumlah uang hasil penjualan tanah. Sementara kasus tersebut kini dalam penyelidikan kepolisian Polres Kediri. [nng/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar