Hukum & Kriminal

Penanganan Kasus ZA Dapat Perhatian Komisi III DPR RI

Malang (beritajatim.com) – Kasus ZA (17), pelajar pembunuh begal di Kabupaten Malang, mendapat perhatian Komisi III DPR RI. Tim Komisi III pun bertandang ke Kejaksaan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, Rabu (29/1/2020) dan bertemu langsung dengan ZA.

Kunjungan tersebut bertajuk Kerja Spesifik Masa Persidangan II Tahun Sidang 2019 – 2020. Pertemuan berlangsung tertutup. Jajaran pejabat Polres Malang, Kejaksaan Negeri Kepanjen, Pengadilan Negeri Kepanjen, DPRD Kabupaten Malang, Penasihat hukum ZA serta Pengurus LKSA Darul Aitam Wajak, dan Badan Pemasyarakatan (Bapas) Malang, ada di lokasi.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Adies Kadir menerangkan kedatangannya adalah perihal menguji prosedur dan jalannya proses hukum yang menjerat ZA.

“Kami tentunya ingin melihat dan mendengar langsung apakah sesuai prosedur atau tidak. Setelah ditanyakan satu per satu dan menguji ke kepolisian, jaksa, dan pengadilan serta Bapas. Sudah benar,” terang Adies.

Politisi Partai Golkar itu menjelaskan, jika menilik pada Undang-Undang (UU) no 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) menyebut, ZA sudah tidak dikategorikan anak karena sudah menikah dan memiliki anak.

“ZA ternyata sudah memiliki anak dan istri jadi secara Undang-Undang tidak dikategorikan anak,” bebernya.

Mengetahui ZA sudah berkeluarga, Adies menyebut ZA melakukan perselingkuhan dengan V, teman wanita ZA.

“Kemudian dia berselingkuh fakta-fakta ini masyarakat harus tahu bahwa ada hal yang terjadi,” tutur Adies.

Adies menyebut ada dua versi kejadian antara versi ZA dan Mat alias Wafa, pria yang menjadi saksi saat persidangan.

“Ada satu sisi yang menyatakan mereka ZA dan VN sedang berselingkuh, sedangkan yang satu sisi dia dipalak. Adanya ancaman itu kan juga kena pasalnya yaitu pengancaman, pemerasan, dan lain-lain,” beber Adies.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Adies Kadir

Adies menyebut pasal 340 KUHP yang didakwakan ke ZA memang membuat kehebohan. Ia berpesan pendakwaan pasal harus disertai ketelitian dan keputusan yang bijak.

“Kami memberikan perbaikan dan kritisi ke kejaksaan, ada tuntutan primer dakwaannya harus betul memperhatikan juga. Yang bikin heboh pasal 340, seumur hidup seakan-akan besar sekali,” papar Adies.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri Kepanjen, Sobrani Binzar memberikan penjelasan terkait kasus pembunuhan begal yang dialami, ZA remaja asal Gondanglegi, Kabupaten Malang.

“Saya mau meluruskan untuk perkara ini. Fakta persidangan yang menggambarkan proses itu, kita hormati itu. Kita jangan beropini sebelum ada proses persidangan untuk menentukan hukumannya,” beber Sobrani.

Pada saat persidangan, ZA didakwa pasal berlapis. Ada pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup.

Selanjutnya, ada pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman penjara maksimal 7 tahun.

Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara, dan Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Sobrani menyebut, tidak ada dakwaan hukuman seumur hidup yang ditujukan ke ZA atas pasal 340 KUHP.

“Terkait perkara ini terdapat dakwaan seumur hidup. Itu kami pastikan tidak ada, karena yang menjadi terdakwa anak. Maka dari itu, proses hukum melalui sistem persidangan anak,” bebernya.

Karena status ZA masuk pada perkara anak, ancaman hukumannya lebih sedikit daripada hukuman dewasa.

“Ancaman hukumannya setengah dari hukuman umur dewasa,” urai Sobrani.

Terkait penerapan pasal berlapis yang didawakan kepada ZA, Sobrani menerangkan semua kronologi harus dibuktikan secara valid di persidangan.

“Yang dinamakan pasal berlapis bukan semuanya. Tapi yang dibuktikan salah satu dari pasal tersebut karena sifatnya subsider.

“Alternatif sifatnya, kalau 340 KUHP tidak terbukti, maka akan kita buktikan 338 KUHP. Kalau tidak terbukti, maka ke 351 KUHP, sehingga yang kemarin beredar berita itu didakwa seumur hidup itu tidak mungkin,” pungkasnya. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar