Hukum & Kriminal

Pemilik Gudang Beras Merasa Jadi Korban Hoaks

Sumenep (beritajatim.com) – Kamarullah, kuasa hukum Latifah, pemilik UD Yudatama Art menilai, kliennya telah menjadi korban hoaks (berita bohong) yang diberikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Bahkan tidak hanya klien kami. Polres pun demikian. Bisa dikatakan juga jadi korban informasi hoaks. Jadi dalam hal ini, sebut saja Mr. X, telah merekayasa dan memberikan laporan hoax. Sudah sepantasnya Polres Sumenep melakukan proses hukum terhadap Mr. X,” katanya, Rabu (11/3/2020).

Ia menduga, ulah Mr. X menyebarkan kabar bohong bertujuan untuk menjatuhkan nama baik usaha kliennya. “Patut diduga, ini berkaitan dengan persaingan bisnis. Karena klien kami tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan itu,” ujarnya.

Kamarullah memaparkan, beberapa tuduhan tidak berdasar itu seperti kliennya beroperasi tanpa ijin. Padahal kenyataannya UD Yudatama ART memiliki ijin resmi. Kemudian tuduhan mengoplos beras tidak sesuai SOP, juga dinilai tidak benar, karena pemilik usaha mencampur beras Bulog dan beras petani yang semuanya berkualitas premium.

“Pencampuran itu justru untuk meningkatkan kualitas beras agar sama rasa sama rupa. Dikemas ulang karena akan dijual dalam kemasan 5 kg ke konsumen. Sementara kliennya membeli beras dalam kemasan 50 kg. Karena itu beras harus dibuka kemudian dikemas ulang dengan merk tersendiri. Bukan merk yang ada hak patennya. Jadi tidak ada yang dirugikan,” ucapnya.

Sedangkan tuduhan menyemprotkan cairan pandan, menurut Kamarullah, itu dilakukan untuk menambah aroma dan menyesuaikan selera konsumen. Lagipula air pandan yang disemprotkan bukan merupakan zat kimia berbahaya.

“Kadar airnya sudah diukur, sehingga tidak akan merusak kualitas beras. Yang disemprotkan pun bukan zat berbahaya. Silahkan dibuktikan di lab. Polres kan sudah mengambil sampelnya. Kami juga menunggu hasilnya,” ujarnya.

Sebelummya, pada Kamis (26/02/2020), Polres Sumenep menggerebek sebuah gudang beras di Jalan Merpati, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep. Di gudang beras dengan nama UD Yudatama ART itu diduga terjadi pengoplosan beras untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Saat digerebek, polisi menemukan ada 10 ton beras yang sudah dioplos dan rencananya akan didistribusikan ke agen di wilayah Pulau/Kecamatan Giligenting. Beras tersebut masing-masing dibungkus dengan kemasan 5 kg sebanyak 2 ribu karung. Beras itu sudah dinaikkan di atas truk bernomor polisi M 8267 UV.

Modus pengoplosan beras di gudang itu, beras keluaran Bulog dicampur dengan beras tanpa merek (beras dari petani). Beras-beras itu kemasannya dibuka, kemudian dituangkan di lantai dan dicampur. Setelah itu beras disemprot dengan cairan pandan. Beras kemudian diangin-anginkan beberapa menit. Setelah kering, beras yang sudah dioplos dan disemprot pandannitu dikemas kembali dalam karung 5 kg, diberi merk Ikan Lele Super. [tem/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar