Hukum & Kriminal

Palsukan Tanda Tangan Kepala UPT Puskesmas Pungging, Pegawai Honorer Jadi Tersangka

Kapolres Mojokerto, AKBP Dony Alexander merilis kasus pemalsuan surat keterangan rapid antigen.

Mojokerto (beritajatim.com) – Pegawai honorer UPT Puskesmas Pungging, Bagus Dwi Wahyu Ramadhan (26) ditetapkan menjadi tersangka kasus pemalsuan surat keterangan rapid antigen. Pegawai bagian loket penerimaan ini memalsukan tanda tangan Kepala UPT dan Dokter Fungsional Puskesmas Pungging.

Kapolres Mojokerto, AKBP Dony Alexander mengatakan, kasus tersebut bermula saat saksi Samsul Huda alias Sulton mendatangi UPT Puskesmas Pungging pada, 25 Januari 2021 lalu. “Saksi Sulton mau ke Makassar. Saksi ke Puskesmas Pungging untuk meminta surat keterangan bebas Covid-19 tapi tidak diberikan,” ungkapnya, Jumat (23/4/2021).

Pasalnya, puskesmas tidak mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan surat keterangan bebas Covid-19. Melihat hal tersebut, tersangka menghampiri dan menawarkan akan membuatkan surat kerangan bebas Covid-19 dengan biaya sebesar Rp150 ribu.

“Dan deal dibuat satu buat surat sehat bebas Covid-19. Tanggal 25 Januari 2021, Sulton berangkat ke Sulawesi Selatan dan berhasil tidak ada komplain di bandara. Karena berhasil, sehingga tanggal 13 April lalu Sulton kembali menghubungi tersangka untuk meminta jasa dibuat surat bebas Covid-19 untuk anaknya,” katanya.

Anak saksi hendak mendaftarkan masuk tim sepak bola Bhayangkara Solo FC di Sidoarjo. Saksi kemudian merekrut sebanyak 10 anak dan menghubungi tersangka untuk membuat surat bebas Covid-19 dengan deal harga Rp120 per surat. Surat tersebut kemudian dibuatkan tersangka dengan menggunakan peralatan UPT Puskesmas Pungging.

“Peralatan menggunakan alat di Puskesmas Pungging dan tanda tangan palsu dari Kepala UPT Puskesmas Pungging, dr Agus Dwi Cahyono dan Dokter Fungsional UPT Puskesmas Pungging, dr Heny Najawanti sesuai keterangan tersangka dan saksi adalah palsu. Tersangka memalsukan tanda tangan tersebut,” katanya.

Kapolres menjelaskan, tersangka melakukan aksi tersebut sendiri dan memanfaatkan waktu sore hari saat tidak ada karyawan di UPT Puskesmas Pungging. Sehingga tersangka bisa membuat surat keterangan bebas Covid-19. Secara kasat mata, surat tersebut resmi karena ada logo pemerintahan yakni Dinas Kesehatan UPT Puskesmas Pungging.

“Namun surat tersebut palsu karena tanda tangan dipalsukan. Kasus ini masih dalam proses pendalaman, apakah saksi Sulton mencari jalan keluar tanda tes atau yang bersangkutan memberikan keleluasaan kepada tersangka? Ini masih pendalaman,” jelasnya.

Sementara itu, tersangka Bagus Dwi Wahyu Ramadhan (26) mengaku, baru dua kali. Sebenarnya ingin membantu pak sulton dan mencari uang untuk tambahan biaya nikah. Bersalah. Surat sudah ada, saya ketik ulang. Bagian hasil diganti. Honorer sejak tahun 2019. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar