Hukum & Kriminal

Oknum Pengacara Membantah Terlibat Dugaan Pemerasan ke Perangkat Desa Tanjungan

ilustrasi

Gresik (beritajatim.com) – Penasehat hukum oknum pengacara berinisal AI, Sulton Sulaiman SH, membantah kliennya melakukan dugaan pemerasan terkait dengan adanya laporan dari Uswatun (37) Bendahara perangkat Desa Tanjungan, Kecamatan Driyorejo, Gresik, ke polisi.

Menurut Sulton, sesuai pasal 16 UU nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat. Bila advokat tidak dapat di tuntut, baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan etikat baik untuk kepentingan pembelaan klien didalam maupun diluar sidang pengadilan.

Hal ini juga dikuatkan uji Materi Mahkamah Konstitusi ( MK ) nomor 26/PUU-XI/2013 di Jakarta, pada Rabu 14 Mei tahun 2014. “Seharusnya Polres Gresik menyerahkan permasalahan ini ke dewan etika profesi terlebih dahulu untuk dikaji permasalahannya,” ujarnya kepada beritjatim.com, Minggu (16/02/2020).

Ia menjelaskan, kejadian tersebut berawal kliennya didatangi oleh salah satu perangkat desa menyampaikan, bahwa Ali Muksin, pemilik toko Bangunan Berkah di Desa Tanjungan, merasa dirugikan oleh pengurus pembangunan proyek sekolah. Pasalnya, nota yang dibuat laporan pertanggungjawaban proyek itu menggunakan tokoh Berkah. Padahal, Ali Muksin tidak pernah membuat untuk proyek tersebut dan juga bukan tanda tanganya. Akhirnya, Ali Muksin memberikan kuasa kepada kliennya.

Selanjutnya kata Sulton, kliennya melakukan klarifikasi ke perangkat desa. Diduga ketakutan, akhirnya meminta untuk diselesaikan secara damai dan siap memberikan ganti rugi. Akhirnya disepakati Rp 50 juta. “Draf perjanjian dibuat. Selanjutnya, diberikan kedua bela pihak.” paparnya.

Begitu sepakat lanjut Sulton, kliennya dihubungi untuk datang ke Balai Desa Tanjungan. Tetapi, saat datang para pihak belum semuanya hadir hanya Uswatun selaku Bendahara Keuangan saja dan perangkat lainya. Sementara Ali Muksin dalam perjalanan.

“Klien saya meminta materi draf pihak perangkat desa direvisi. Namun, saat mengetik di Balai desa untuk revisi. Tetapi, bersamaan Uswatun bendahara keuangan desa menyerahkan uang Rp 50 juta ke klien kami. Saat dimasukkan ke dalam tas. Bersamaan dengan itu digerebek oleh anggota Satreskrim Polres Gresik. Adanya kejadian itu, kami masih koordinasi dengan kepolisian karena masih penyelidikan,” tandasnya.

Sementara itu, Uswatun menuturkan, pihaknya membenarkan jika telah melaporkan kejadian itu ke kepolisian. “Kami melaporkan ke Polres Gresik,” tuturnya.

Secara terpisah terkait dengan kejadian ini, Kasatreskrim AKP Panji P. Wijaya menduga ada upaya pemerasan oleh oknum pengacara. Anggota mendapatkam laporan dari masyarakat. “Memang benar, tetapi statusnya masih terlapor dan masih pemeriksaan saksi-saksi. Tunggu hasilnya segera kami beberkan setelah selesai tahap penyelidikan selesai,” pungkasnya. [dny/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar