Hukum & Kriminal

Oknum Guru SMPN di Malang Cabuli 18 Siswa dengan Modus Sumpah Alquran

Malang (beritajatim.com) – Lembaga pendidikan di Kabupaten Malang kembali tercoreng. Kali ini, seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SMPN 4 Kepanjen berinisial CH, tega berbuat asusila. Diduga, CH mengalami kelainan seksual. Pasalnya, guru tidak tetap itu memperlakukan 18 siswa laki-laki dengan perbuatan tidak senonoh.

Kasus tersebut, kini sedang ditangani Satreskrim Polres Malang. Informasi yang diperoleh, kasus tidak senonoh ini terjadi sekitar setahun lalu. Berdasarkan sumber, ada 18 siswa yang menjadi korbannya. Sekarang ini, para siswa yang menjadi korban duduk di kelas IX.

“Siswa yang menjadi korban ada banyak. Mereka dilakukan tidak senonoh tidak berbarengan, melainkan satu per satu,” jelas sumber yang meminta namanya tidak disebutkan.

Modus pelecahan seksual, dengan cara siswa dipanggil ke ruang CH. Kebetulan di sekolah itu, CH adalah seorang guru BK. Saat di ruangannya, CH, warga Desa Kedung Pedaringan, Kepanjen ini, lantas meminta tolong pada korban.

CH mengatakan sedang mengadakan penelitian untuk keperluan lanjutan pendidikan S3. “Sebelum melakukan pelecehan, dia meminta kemauan korban. Setelah korban mau dan disumpah dengan Alquran, lalu CH ini mengatakan penelitiannya,” jelasnya.

Para korban yang tidak bisa berbuat karena telah disumpah hanya pasrah. Kemudian CH menutup pintu dan selambu ruang BK. Selanjutnya melepas celana siswa, yang kemudian mengocok kelamin siswa hingga mengeluarkan sperma.

Modus yang dilakukan terhadap semua korbannya sama. Bahkan, salah satu siswa ada yang sampai tiga kali dilakukan tidak senonoh oleh CH.

Perbuatan tak senonoh ini, baru terbongkar Jumat (29/11/2019) lalu. Bermula dari salah satu siswa yang menjadi korban, mengadu kepada salah satu guru BK. Dari pengaduan ini, kemudian berkembang dan ternyata korban berjumlah 18 siswa.

Atas kejadian ini, pihak sekolah lantas memberhentikan CH, pada Sabtu (30/11/2019). “CH sudah dipecat dari sekolah. Kasusnya sudah dilaporkan ke polisi,” katanya.

Terpisah, Ketua Komite SMPN 4 Kepanjen, Warsito SE menyampaikan bahwa dirinya sangat menyayangkan peristiwa tersebut baru terungkap belakangan ini. Warsito pun mengaku berang ketika mendengar kabar tersebut.

“Perkara ini kan sudah satu tahun lebih. Kan dia (CH, red) sudah lama disitu, takutnya mungkin ada korban-korban lain. Saya saja awalnya tidak diberitahu. Harus ditindak tegas dan diproses hukum, supaya orang lain tidak mengikuti perbuatannya,” tegas Warsito.

Warsito pun memastikan jika CH sudah dipecat dari SMPN 4 Kepanjen. Warsito juga mengimbau kepada para wali murid jika ada anaknya yang menjadi korban, agar segera melapor.

“Kalau orang tua mau lapor, laporkan. Saya dukung, saya dampingi, saya carikan pengacara,” katanya.

Lebih jauh, Warsito membenarkan jika pihak kepolisian sudah turun tangan menyelidiki perkara tersebut. Saat ini, Warsito mengaku hanya berpikir mengenai bagaimana memulihkan kondisi psikis para korban. “Pertimbangannya psikologi anak juga. Tapi kalau saya ya, ini harus diproses hukum,” pungkasnya.

Kepala SMP Negeri 4 Kepanjen, Suprianto, dikonfirmasi membenarkan. Ia mengatakan bahwa CH sudah dipecat. Termasuk menyerahkan kasusnya ke pihak kepolisian. “Tidak sampai 24 jam setelah mendapat laporan, yang bersangkutan langsung saya pecat,” ujarnya.

Dikatakannya, dia mendapat laporan dari salah satu guru pada hari Jumat (29/11/2019) lalu. Kemudian mengembangkan kasusnya dengan mengumpulkan siswa. Setelah memang ada, dirinya lantas melaporkan ke pimpinan untuk mengeluarkan SK pemecatan.

“Kasusnya sekarang sudah kami serahkan ke pihak Kepolisian. Perkaranya sedang dalam proses penyelidikan,” katanya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo, dikonfirmasi membenarkan adanya laporan kasus pelecehan tersebut. Polisi sudah meminta keterangan beberapa saksi, termasuk mengumpulkan barang bukti.

“Sudah kami terima laporannya dan sudah ditindaklanjuti. Sekarang ini, kami masih menyelidiki keberadaan pelakunya,” tegas Tiksnarto. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar