Hukum & Kriminal

Nenek di Jember Mengaku Diperkosa, Eh Ternyata…

Jember (beritajatim.com) – S (60), seorang perempuan warga Dusun Krajan, Desa Umbulsari, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur melaporkan pemerkosaan atas dirinya ke polisi. Belakangan terungkap bahwa laporan itu adalah palsu.

S mengaku di hadapan polisi, bahwa peristiwa pemerkosaan dan penganiayaan itu terjadi pada 4 Desember 2019 di rumahnya. Saat itu, ia ditemukan oleh tetangga dalam keadaan terlentang dan pingsan di atas ranjang.

Tak ada yang tahu penyebabnya. Namun saat itu, lehernya terluka. Ia memakai daster warna merah dan di sampingnya ada celana dalam warna putih.

Polisi baru meminta keterangan pada 6 Desember 2019, saat S sudah pulih di RS Daerah dr. Soebandi. Penganiayaan dan perkosaan meluncur dari bibirnya.

Polisi pun melakukan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara. Polisi mencurigai adanya sejumlah keterangan yang tidak masuk akal. Polisi tidak menemukan tanda-tanda kerusakan pada vagina S maupun bekas sperma. Tempat tidur S juga rapi dan tak ada tanda-tanda adanya pergumulan.

Darah dari leher S mengalir ke arah dada. Ini artinya S mendapat luka di leher dalam keadaan duduk. “Seharusnya kalau pemerkosaan dalam posisi tidur, seharusnya aliran darah di leher akan mengenai ke belakang. Pengakuan korban dengan alat bukti tidak ada keterkaitan,” kata Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Alfian Nurrizal.

Tanggal 9 Januari 2020, polisi kembali melakukan olah tempat kejadian perkara di rumah S. Di sana ditemukan sebilah pisau dengan bercak darah yang diletakkan dalam bak plastik warna hijau di bawah ranjang S.

Sehari kemudian, polisi kembali meminta keterangan S. Dari sini terungkap bahwa si nenek melukai lehernya sendiri saat itu. “Saya berusaha bunuh diri dengan melukai leher saya dengan menggunakan pisau itu,” katanya. Ia memang tiga kali menyayat kulit lehernya hingga tiga kali dalam keadaan duduk.

S kemudian tak sadarkan diri setelah sempat sebelumnya meletakkan pisau itu dalam bak di bawah ranjangnya. Ia baru sadar pada 4 Desember 2019 di Puskesmas Umbulsari.

“Dia mengaku melukai dirinya dengan alasan terjerat utang Rp 10 juta. Kami menjadikan dia tersangka karena pengaduan palsu, dan kami jerat dengan pasal 220 KUHP dengan ancaman hukuman penjara satu tahun empat bulan,” kata Alfian. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar