Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Modus Pengobatan, Anggota Persekutuan Doa di Jombang Setubuhi Pasiennya

Jombang (beritajatim.com) – Polres Jombang membekuk oknum anggota PD (persekutuan doa) Efrata Mojowarno berinisial HPN (39), warga setempat. HPN diduga menyetubuhi anak di bawah umur, sebut saja Kuntum (14), dengan modus pengobatan lewat doa.

Pelaku menyetubuhi korbannya sebanyak dua kali di tempat berbeda. Pertama di rumah korban pada 10 Agustus 2019 sekitar pukul 22.00 WIB. Kedua, pada Rabu 6 Oktober 2021 sekira pukul 19.00 WIB di kamar tamu PD Efrata Mojowarno.

“Pelaku kita tangkap pada 16 November 2021 di rumahnya. Hasil pemeriksaan, pelaku melakukan persetubuhan sebanyak dua kali. Modusnya pengobatan melalui doa,” kata Wakapolres Jombang Kompol Arie Trestiawan, Senin (22/11/2021).

Kasus ini bermula ketika Kuntum mengalami sakit. Dia kerap kejang-kejang. Ayah korban kemudian meminta tersangka datang ke rumahnya untuk mendoakan Kuntum yang sedang sakit. Tersangka mengabulkan undangan itu.

Saat berada di rumah korban, tersangka meminta ibu korban berdoa di ruang tamu dan ayah korban berdoa di rumah saudaranya yang sakit. Sementara tersangka melakukan doa berdua dengan korban di kamar.

“Setelah doa bersama dengan korban selesai, tersangka menyetubuhi Kuntum di kamar. Pelaku berdalih persetubuhan itu untuk kesembuhan korban,” kata Wakapolres.

Korban mau disetubuhi karena tersangka merupakan Hamba Tuhan yang perkataannya harus ditaati supaya menjadi berkat. Modus itulah yang dilakukan oleh HPN. Korban hanya menurut.

Seiring laju waktu, korban akhirnya menceritakan kejadian yang dialaminya kepada sang ibu. Tentu saja, ibu korban kaget bukan kepalang. Dia kemudian melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Atas laporan tersebut, polisi melakukan penyelidikan. Walhasil, HPN ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan. Selain itu, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Dalam pemeriksaan, HPN mengakui semua perbuatannya.

“Pelaku dijerat pasal 81 ayat (2) UURI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang,” kata Arie.

“Ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun. Serta denda maksimal Rp 5 miliar,” pungkas Wakapolres Jombang sembari menunjukkan barang bukti berupa pakaian korban dan pakaian pelaku. [suf/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar