Hukum & Kriminal

Modus Dumping Limbah B3 di Mojokerto, Sopir Cari Keuntungan dari Biaya Perjalanan

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Putu Prima. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kasus dumping limbah Badan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dibuang di bekas galian Dusun Kecapangan, Desa Ngoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto tersebut berawal dari permintaan pemilik lahan. Pemilik lahan meminta perantara mencari limbah B3 untuk urug dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Putu Prima mengatakan, pemilik lahan, Zainul Arifin (46) kepada perantara, Suparman (59) mencarikan limbah B3 jenis sludge kertas untuk menguruk lahan bekas galian C miliknya. “Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan,” ungkapnya, Rabu (12/2/2020).

Masih kata Kasat, Zainul meminta keuntungan Rp750 ribu dari setiap dump truck limbah B3 yang dibuang di lahannya di bekas galian Dusun Kecapangan, Desa Ngoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Suparman lantas menghubungi sejumlah temannya yang menjadi sopir di perusahaan transporter limbah B3 PT Tenang Jaya Sejahtera.

“Suparman mendapat imbalan Rp50 ribu dari setiap dump truck limbah sludge kertas yang dibuang ke lahan Zainul. Ketiga sopir PT TJS pun membuang limbah sludge kertas yang mereka angkut dari pabrik kertas PT Adiprima Suraprinta di Desa Sumengko, Kecamatan Wringin Anom, Kabupaten Gresik ke lahan milik Zainul,” katanya.

Seharusnya limbah B3 itu, lanjut Kasat, dibawa ke perusahaan pengolah, pengumpul dan pemanfaat limbah B3 PT Triguna Pratama Abadi di Desa Gintung Kerta, Kecamatan Klari, Karawang. Para sopir mengambil keuntungan tanpa ada konfirmasi ke perusahaan dengan cara mengurangi retase sehingga mendapatkan keuntungan dari biaya perjalanan yang sudah dilakukan oleh sopir.

“Para sopir mau membuang limbah tersebut karena mendapat keuntungan Rp1 juta dari selisih solar apabila muatan penuh dibandingkan muatan tinggal setengahnya. Mereka mendapat keuntungan dari mengurangi muatan tanpa konfirmasi ke perusahaan. Kami belum menahan kelima tersangka, kami masih akan memanggil tersangka untuk mendalami,” ujarnya.

Kasat menjelaskan, pihaknya juga sudah memeriksa tiga perusahaan besar yakni, PT Adiprima Suraprinta (Perusahaan penghasil limbah B3), Tenang Jaya Sejahtera (Transporter) dan PT Triguna Pratama Abadi (Pengelola Limbah). Hasil pemeriksaan memang tidak diakui, karena perbuatan sopir tersebut dilakukan tanpa diketahui perusahaan.

“Para sopir membuang limbah B3 ke lahan Zainul di Dusun Kecapangan tanpa sepengetahuan perusahaan. Mereka (perusahaan) mempunyai izin pengelolaan, penampungan, transporter, lengkap. Niat jahat ini dimiliki perantara dan pemilik lahan sehingga ada kerja sama antara kelima tersangka,” jelasnya.

Akibat perbuatan mereka, para tersangka dijerat Pasal 102 UU nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juncto pasal 55 KUHP juncto pasal 64 KUHP dan atau pasal 104 UU nomor 32 tahun 2009 juncto pasal 55 KUHP juncto pasal 64 KUHP dengan ancaman maksimal 3 tahun penjara dan denda maksimal Rp3 miliar. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar