Hukum & Kriminal

Miras Oplosan Air Sumur Beredar di Banyuwangi

Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin (tiga dari kanan) bersama jajarannya saat melakukan ungkap kasus peredaran miras oplosan di Mapolresta, Kamis (23/1/2020).

Banyuwangi (beritajatim.com) – Ulah MSAC (25) berakhir di tangan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyuwangi. Pemuda asal warga Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari itu ditangkap karena membuat dan mengedarkan miras oplosan.

Miras tanpa merk dan ijin edar itu terbuat dari racikan sendiri yang terdiri dari air sumur dan dioplos dengan cairan ethanol. Kemudian, minuman itu dikemas dalam sebuah botol berukuran 600 mililiter.

“Komposisinya ya air sumur murni itu dengan dicampur ethanol. Ini sudah dilakukan tersangka sejak 3 bulan lalu. Ethanol dibelinya dari seseorang berinisial A beralamat di Surabaya dalam 10 jerigen ukuran 20 liter dikirim melalui bus. Harga ethanol itu Rp 45 ribu perliter,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin saat press release di Mapolresta, Kamis (23/1/2020).

Caranya, kata Arman, tersangka memisah ethanol ukuran 13 liter dan mencampurnya dengan air di dalam jerigen ukuran 30 liter. Kemudian setelah dirasa takaran telah sesuai, tersangka mengambilnya dengan menggunakan selang dan menuangkannya ke dalam kemasan botol.

“Jadi sebelum dikemas itu dia cicipi dulu, kalau dirasa sudah sesuai kemudian dikemas. Menurut tersangka kandungan ethanol setiap botol sampai 90 persen,” ungkapnya.

Setelah itu dari tangan MSAC, miras tersebut didistribusikan ke kawannya untuk diedarkan. Harga setiap botol tersebut yaitu Rp 17 ribu.

“Kepada kawannya GEW itu dia jual Rp 17 ribu, kemudian sama kawannya dijual lagi ke konsumen/ warga senilai Rp 25 ribu,” jelasnya.

Polisi juga menangkap GEW (34) di rumahnya. Dari pengakuannya, sebelum dijual ternyata minuman itu dioplos lagi.

“Jadi sebelum dijual ke konsumen, GEW ini juga mengoplosnya lagi dengan menambah air. Komposisinya dikurangi lalu dibagi dengan botol lain dan dikemas lagi,” pungkasnya.

Saat ungkap kasus ini, kedua tersangka juga mempraktikkan cara memproduksi miras oplosan tersebut. Dari setiap produksi, tersangka mampu menghasilkan 750 botol miras. Kemungkinan, miras tersebut beredar ke seluruh penjuru Banyuwangi. [rin/but]

 





Apa Reaksi Anda?

Komentar