Hukum & Kriminal

Mengaku Sebagai Wadirkrimsus Polda Jatim, Tipu Pengusaha Ratusan Juta

Tersangka Stefanus dan Hari Irawan saat pers release yang dilakukan Unit Cyber Crime Polda Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Aksi tipu-tipu yang dilakukan Stefanus dan Hari Irawan akhirnya berakhir di jeruji besi tahanan Polda Jatim. Keduanya ditangkap anggota Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim. Lantaran keduanya mengaku sebagai anggota polisi dan menipu korban hingga puluhan juta rupiah.

Dari tangan tersangka, petugas mendapatkan barang bukti hasil kejahatan mereka. Yakni, uang tunai satu juta rupiah, beberapa rekening koran milik tersangka dan sejumlah handphone.

Kanit III Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim, AKP Harianto Rantesalu, mengatakan dalam modus penipuan yang mereka lakukan, keduanya menyaru sebagai perwira Polda Jatim.

Hari Irawan mengaku sebagai AKBP Arman Asmara selaku Wadireskrimsus Polda Jatim. Sedangkan rekannya mengaku sebagai polisi berpangkat Kompol. “Modus yang dilakukan pelaku dengan cara menghubungi pengusaha-pengusaha, pelaku sebagai Wadireskrimsus Polda Jawa Timur, Bapak AKBP Arman Asmara,” tutur Harianto di Balai Wartawan Mapolda Jatim, Kamis (15/8/2019).

Kepada pengusaha, para tersangka dijelaskan Harianto, menawarkan tembaga dalam jumlah banyak senilai Rp285 juta. Tawaran itu disampaikan melalui pesan Whatsapp.

Karena mengira tawaran tersebut datang langsung dari perwira polisi, calon korban, Rianto, pengusaha asal Gresik pun akhirnya menerima dan sepakat membeli barang yang ditawarkan pelaku. “Dan setelah disepakati harga itu, pelaku menyuruh korban untuk mentransfer awal, DP sebesar Rp47 juta,” lanjut Harianto.

Benar saja, usai korban dua kali mentransfer uang ke rekening pelaku. Barang yang dijanjikan tak jua dikirim. Nomor yang dipakai berkomunikasi sebelumnya juga tak bisa dihubungi. Selanjutnya, korban melapor peristiwa yang dialami tersebut kepada polisi.

Pasal yang disangkakan kepada tersangka, pasal 28 dan 45a undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang transaksi elektronik dengan ancaman hukuman selama enam tahun penjara dan denda sebesar satu miliar rupiah. [uci/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar