Hukum & Kriminal

Menangkan Gugatan 1,136 Ton Emas, Ini Kata Budi Said dan Pengacaranya

Surabaya (beritajatim.com) – Gugatan yang diajukan Budi Said atas 1,136 ton emas batangan dikabulkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang diketuai Martin Ginting beberapa waktu lalu. Dalam gugatan disebutkan, emas 1,136 ton tersebut harus dibayarkan PT Aneka Tambang (Antam Tbk)
selaku tergugat.

Atas putusan tersebut, Budi Said pada beritajatim.com melalui pesan Whatsaap menyatakan bahwa perjuangan dirinya belum berakhir di tingkat PN Surabaya saja. “Kan masih tahap awal, masih perlu perjuangan yang panjang,” ujarnya.

Pria yang berprofesi sebagai pengusaha ini enggan berkomentar lebih lanjut terkait putusan majelis hakim yang menghukum tergugat untuk membayar Rp 800 miliar lebih atau menyerahkan emas batangan seberat 1.136 kilogram kepada Budi Said.

“Nggak ada (komentar) mbak, maaf Mbak, saya takut nanti salah ngomong, nanti saya dituntut pencemaran nama baik. Monggo dilihat di putusan dan ada fakta persidangan nya Mbak,” ujarnya.

Sementara kuasa hukum Budi Said, Ening Swandari menyatakan menghormati terkait upaya banding yang disampaikan tergugat.
“Kami menghormati ya, dan kami belum menerima pemberitahuan resmi dari pengadilan,” ujarnya.

Terkait tergugat yang ternyata juga bermasalah dengan pihak lain selain Budi Said, Ening menyatakan bahwa hal itu juga sesuai fakta persidangn perkara pidana no. 2576/pid.b/2019/pn.sby, dimana Eksi Anggraeni memiliki beberapa funder.

Perlu diketahui, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada perkara perdata dengan nomor perkara 158/Pdt.G/2020/PN Sby ini mengabulkan sebagian gugatan Budi Said atas selisih penjualan emas batangannya, Rabu (13/1/2021) lalu.

Martin Ginting, selaku hakim ketua didampingi hakim anggota satu Yohanis Hehamony dan hakim Ni Made Utami dalam amar putusannya menyatakan :

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian.

2. Menyatakan Tergugat 1,2,3,4 dan 5 bersalah telah melakukan perbuatan melanggar hukum yang merugikan Penggugat.

3. Menyatakan PT Antam Tbk sebagai Tergugat 1 bertanggung jawab terhadap segala tindakan dan seluruh akibat hukumnya yang dilajukan Tergugat 2,3 dan 4.

4. Menghukum Tergugat 1 membayar Rp 817.465.600.000 atau menyerahkan emas batangan Antam seberat 1.136 kilogram kepada Penggugat, dan apabila emas batangan Antam seberat 1.136 kilogram tersebut tidak dibayar maka diganti uang yang setara dengan harga emas pada saat pelaksanaan putusan ini.

5. Menghukum Tergugat 1 membayar kerugian kepada Penggugat sebesar 92.092.000.000.

6. Menghukum Tergugat 1 dan Tergugat 5 secara tanggungrenteng membayar kerugian immaterial kepada Penggugat sebesar 500 miliar secara seketika dan sekaligus sejak putusan aquo memiliki putusan berkekuatan hukum tetap.

7. Menghukum Tergugat 1 dan Tergugat 5 membayar uang paksa dwangsome sebesar 100 juta untuk setiap hari keterlambatan.

8. Menyatakan putusan perkara ini dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada upaya hukum banding, kasasi, peninjauan kembali maupun upaya hukum lainnya berupa perlawanan atau bantahan.

9. Menghukum para Tergugat dan Turut Tergugat tunduk pada putusan aquo yang berkekuatan hukum tetap.

Dikonfirmasi terkait putusan ini, Slamet Priyanto selaku kuasa hukum Tergugat menyatakan menolak memberikan pernyataan.

Diketahui, Budi Said menggugat PT Antam Tbk akibat ada selisih jumlah emas batangan yang dia beli dengan yang dia terima.

Dalam gugatannya Budi Said meminta agar majelis hakim PN Surabaya menghukum PT Antam Tbk membayar kerugian sebesar Rp 817.465.600.000.

Menurut Budi Said, nilai sebanyak itu merupakan kerugian setara dengan nilai harga emas batangan Antam Tbk Lokasi Butik Emas LM-Surabaya Pemuda seberat 1.136 kilogram, yang nantinya nilai ganti rugi tersebut disesuaikan lagi dengan fluktuasi nilai emas dari pengumuman website resmi Antam melalui situs www.logammulia.com.

Selain menggugat PT Antam Tbk, Budi Said juga menggugat sejumlah pihak diantaranya, Kepala BELM Surabaya I Antam, Endang Kumoro, Tenaga administrasi BELM Surabaya I Antam, Misdianto, General Trading Manufacturing and Service Senior Officer, Ahmad Purwanto dan Eksi Anggraeni. [uci/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar