Hukum & Kriminal

Melawan saat Operasi Yustisi, Pemilik Warung Jadi Tersangka

Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono saat menggelar konferensi pers penetapan tersangka kasus pemilik warung kopi hadang tim Satgas Covid-19.[foto/M Muthohar]

Tuban (beritajatim.com) – Seorang pemilik warung kopi ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Sat Reskrim Polres Tuban, Senin (15/2/2021). Itu setelah aksinya melawan dan menghalang-halangi petugas dari Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Tuban yang akan melakukan razia penerapan protokol kesehatan beberapa waktu lalu.

Dia adalah NOA (33), pemilik warung Wrong Way yang ada di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, Tuban. Selain menetapkan NOA sebagai tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa kendaraan pikap yang saat itu digunakan untuk menghadang dan nyaris menabrak petugas.

Seperti diketahui, NOA melawan petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Polisi, TNI dan juga Dinas Perhubungan Tuban. Saat itu tim tersebut melakukan razia penertiban Protokol Kesehatan dalam penetapan PPKM pada akhir Januari lalu.

“Setelah beberapa kali Kita lakukan pemeriksaan, termasuk pemeriksaan para saksi, pemilik warung wrong way tersebut kita ditetapkan sebagai tersangka,” terang Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono, saat menggelar pers rilis kasus tersebut.

Kapolres menambahkan, pemilik warung kopi tersebut dinyatakan melanggar kasus perkara tindak pidana dengan sengaja menghalangi petugas menjalankan operasi terpadu Penertiban protokol kesehatan Covid-19. Sehingga pria betubuh besar itu dijerat pasal Pasal 212 KUHP atau Pasal 216 KUHP.

Tersangka NOA (kaus hita) saat berada di ruangan penyidik Sat Reskrim Polres Tuban setelah ditetapkan sebagai tersangka. [foto/M Muthohar]
“Untuk ancaman hukuman 1 tahun 4 bulan. Karena ancamannya dibawah 5 tahun, jadi tersangka tidak ditahan,” sambung Kapolres Tuban.

Kapolres Tuban berharap dengan adanya kasus tersebut tidak sampai terjadi kembali kasus penghadangan maupun perlawanan terhadap petugas yang menjalankan tugas. Dengan ditetapkan NOA sebagai tersangka, bisa dijadikan pembelajaran untuk semua bahwa tidak ada yang boleh mentang-mentang sekalipun itu keluarga dari pejabat manapun.

“Kami berharap masyarakat bisa menghargai petugas, terlebih saat ini pemerintah sedang menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Kita semua harus patuhi demi memutus penyebaran Covid-19. Saya harap ini kejadian pertama dan terakhir, kita komitmen tegas terhadap hal seperti ini,” pungkasnya. [mut/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar