Hukum & Kriminal

Hari Pers Nasional

Media Marak Liput Kasus Asusila, Ini Kata Komnas Perempuan

Surabaya (beritajatim.com) – Maraknya kasus yang melibatkan pribadi wanita menjadi tema khusus di pembicaraan dalam acara The Editor’s Talk memperingati Hari Pers Nasional 2019, di Garden Palace Surabaya, Jumat (8/2/2019).

Mengangkat tema “Media Meliput Perempuan”, kegiatan diskusi ini membahas kasus yang baru-baru saja ramai dibicarakan. Yaitu, kasus prostitusi online yang melibatkan artis berinisial VA.

Salah satu pembicara, Mariana Aminuddin Komnas Perempuan menegaskan kepada insan pers, agar pemberitaan asusila tersebut tetap menerapkan asas praduga tak bersalah sebagaimana yang diatur dalam UU Pers.

Hal ini pun harusnya berlaku untuk pihak kepolisian agar tidak terlalu mengeksploitasi korban-korban yang diduga terlibat kasus prostitusi online.

Sebab, ada hak-hak privasi seseorang yang harus dijaga. Dia menyarankan, agar polisi tidak membuka identitasnya hingga proses penyidikan selesai.

“Menurut saya, banyak media yang melanggar prinsip praduga tak bersalah. Saya tidak ingin menyalahkan media, karena ini juga disebabkan informasi yang diberikan pihak kepolisian, terlalu terbuka,” kata Mariana.

Dengan demikian, dia meminta agar media dan polisi tidak perlu mengekspos identitasnya terlalu dalam. Sebab sanksi sosial yang diterimanya, kata dia, sudah cukup berpengaruh besar pada masa depannya kelak.

“Sesuai ketentuan kode etik, kalau bukan untuk kepentingan umum buat apa diekspos. Praduga tidak bersalah, itu tidak boleh menunjukkan wajah yang bersangkutan. Gosip bisa menghabiskan masa depan seseorang,” jelasnya.

Sementara itu, Kombes Pol Frans Barung Mangera Kabid Humas Polda Jatim justru menanyakan balik peran Komnas Perempuan. Dia menyebutkan, kasus prostitusi online bukan pertama kalinya di Surabaya.

Pihak kepolisian memberikan keterbukaan informasi untuk publik. Sebab, pihaknya tidak ingin menghalangi tugas pers. Dia menegaskan, tugas utama polisi ini adalah untuk membongkar bisnis prostitusi online yang dinilainya cukup besar.

“Sebelum kasus ini, ada kasus sebelumnya yang lebih dari ini. Lalu, kemana pemerhati? Baru kasus ini aja besar, karena di dalamnya ada publik figur. Kami terbuka dalam hal memberikan informasi untuk publik. Kalau tidak, nanti kami disangkakan menghalangi tugas pers. Tugas kami sebenarnya hanya ingin membongkar praktik bisnis haram ini,” kata dia. [way/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar