Hukum & Kriminal

Mantan Kasi Kemersil dan Pengembangan Bisnis Industri Bulog Sub Divre Wilayah Surabaya Selatan Juga Terjerat 3 Kasus Lain

Mojokerto (beritajatim.com) – Mantan Kasi Kemersil dan Pengembangan Bisnis Industri Bulog Sub Divre Wilayah Surabaya Selatan, Sigit Hendro Purnomo selain tersandung kasus korupsi hasil penjualan sembako di internal Bulog Sub Divre Surabaya Selatan sebesar Rp1,7 miliar, juga tersandung tiga kasus lainnya.

Pasca diringkus Tim Intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur di Bandung pada, Kamis (21/3/2019) lalu, pria 35 tahun ini ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Rabu (12/6/2019). Sigit dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Mojokerto.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Kabupaten Mojokerto Agus Hariono mengatakan, tiga kasus lain yang menjerat tersangka tersebut saat ini masih dalam proses. “Diantaranya dugaan penipuan dan penggelapan dengan pelapor Puspa Agro, Sidoarjo mencapai Rp12 miliar,” ungkapnya, Sabtu (15/6/2019).

Modusnya, lanjut Kasi Pidsus, hampir sama dengan kasus korupsi hasil penjualan sembako. Tersangka melakukan transaksi dan hasil penjualan tidak masuk ke perusahaan. Dua kasus lainnya masih dalam penangganan pihak kepolisian. Sejumlah kasus tersebut terjadi karena kewenangan tersangka.

“Saat menjabat kepala seksi, Sigit juga harus merangkap sebagai kepala gudang karena saat itu kosong. Sigit memiliki keleluasaan mengatur program-program strategis, seperti program pemerintah sembako murah, RPK. Sigit memasukkan data sendiri, mengeluarkan sendiri, hingga mengeluarkan faktur penjualan sendiri,” bebernya.

Kasus tersebut terungkap setelah Bulog Jatim melakukan audit di akhir 2017 lalu dan menemukan kerugian hingga mencapai Rp1,6 miliar. Satu unit rumah di kawasan Surodinawan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto dan mobil Toyota Yaris karena tersangka melarikan diri ke sejumlah tempat.

Kejati Jatim melimpahkan kasus ini ke Kejari Kabupaten Mojokerto dan tersangka ditahan karena dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mengulangi tindak pidananya. Sigit dijerat dengan Pasal 2 dan 3 UU RI No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar