Hukum & Kriminal

Mantan Karyawan Pabrik Thinner Dianiaya Puluhan Preman Bersenjata Pistol dan Parang

Korban dan rekan-rekannya habis dimintai keterangan Satreskrim Polresta Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Puluhan orang tak dikenal dan diduga membawa pistol dan parang mendatangi tempat indekos Alfon (23) mantan karyawan pabrik thinner di kawasan Tambak Sawah Kec Waru, Minggu (19/4/2020) dini hari.

Tak ketemu Alfon di tempat indekos, para preman menodong dan mengintimidasi kakak perempuan Alfon dengan pistol. Para preman juga menganiaya teman Alfon satu indekost yang bernama Yohannes (24) dan Marsi (21) dengan cara membacok dengan parang, hingga keduanya luka di kepala.

Diceritakan Renold (27) kakak kandung Alfon, kejadian penganiayaan yang terjadi di tempat kost itu adalah kejadian yang kedua. Kejadian pertama terjadi pada Jumat (17/4/2020).

Ada empat orang laki-laki datang ke tempat kos korban Alfon. Keempat orang itu mengaku sebagai Protokoler CV WST, dengan tujuan mencari Alfon, kebetulan korban Alfon tak ada di tempat kos.

“Keempat orang itu saya temui, dan meminta Alfon agar datang ke pabrik,” kata Renold kakak kandung Alfon, Minggu (19/4/20) dini hari, usai dimintai keterangan penyidik di Mapolresta Sidoarjo.

Lanjut Renold, beberapa saat kemudian Alfon datang ke tempat kos dan bermaksud berangkat menuju pabrik CV WST dengannya (Renold). Namun sebelum berangkat, Alfon mendapatkan telpon dari seseorang yang mengaku protokoler CV WST, agar menunggu di warung kopi saja.

Mereka berdua langsung menuju warkop, dan tak lama kemudian empat orang laki-laki yang mengaku sebagai protokoler CV WST datang, dan salah satu dari mereka menuduh Alfon melakukan pencurian di CV WST.

“Sambil menuduh itu, salah satu pelaku membacokkan sangkurnya yang bersarung kain ke kepala Alfon. Kepala Alfon langsung berdarah,” terang Renold.

Tak sampai di situ, Alfon juga mendapatkan beberapa bogem mentah berkali-kali. Renold yang berusaha menengahi juga tak luput dari bogem mentah para pelaku yang jumlahnya bertambah jadi 7 orang.

Alfon diberi waktu 2 hari untuk mengaku jika sudah mencuri barang-barang milik CV WST. Pelaku juga mengancam akan melubangi tubuh Alfon. “Kalau tak mau ngaku, tubuhmu akan kulubangi,” ungkap Renold, menirukan ancaman pelaku.

Usai kejadian itu, Renold langsung menghubungi mantan majikan Alfon, yang juga mantan majikan Renold juga. Sekadar diketahui, Alfon kena PHK 3 hari yang lalu dan Renold kena PHK 3 bulan yang lalu.

Untuk menanyakan perihal preman suruhan, yang telah menuduh dan menganiaya mereka berdua. Saat dihubungi Renold, bos CV WST yang bernama AGS hanya menjawab singkat. “Iya besok tak tanyakan ke orang itu (preman suruhan),” tiru Renold, menirukan AGS.

Dengan kejadian penganiayaan itu, korban Alfon ketakutan dan langsung melaporkannya ke Polresta Sidoarjo. Karena masih trauma, Alfon tak berani tidur di tempat kos, ia memilih tidur di tempat kakaknya.

Naluri Alfon tepat sekali untuk tak tidur di tempat kos. Sabtu pagi (18/4/2020) ketika Renold, bersama Yohannes dan Marsi sedang meminum kopi di depan kamar. Kurang lebih 20 orang preman menyerbu tempat kost Bahari, untuk mencari Alfon.

Karena Alfon tak ada, orang yang ada di tempat kos itu menjadi sasaran mereka. “Istri saya yang tak tahu apa-apa, sampai diancam dengan pistol oleh salah satu pelaku,” terang Renold.

Karena keselamatannya terancam Renold dan istrinya masuk ke kamar. Tapi puluhan preman itu tetap tak terima. Mereka berusaha mendobrak pintu kamar pasutri itu.

Karena ketakutan istri Renold berteriak minta tolong. Sekitar lima menit berteriak minta tolong, akhirnya keadaan di luar sepi. Pasutri itu pun memberanikan diri untuk keluar kamar, memeriksa keadaan di luar dan keadaan memang sepi, tapi ada yang janggal. “Yohannes dan Marsi yang tadi ngopi sama saya, entah kemana?,” paparnya.

Setelah beberapa saat Renold mencari tahu keberadaan Yohanes dan Marsi. Akhirnya Renold mendapatkan kabar dari beberapa orang. Jika mereka berdua dikejar puluhan preman dan lari ke belakang.

Setelah beberapa jam kemudian mereka kembali dengan luka menganga di kepala. Yohannes menutupi lukanya dengan daun pepaya untuk menghentikan pendarahan. Karena trauma, ia tak berani berobat ke klinik sampai sore. “Akhirnya kami melapor lagi ke Polresta, ini kejadian penganiayaan kedua,” tuturnya.

Sementara itu Kasubag Humas Polresta Sidoarjo Ipda Tri Novi membenarkan kejadian penganiayaan itu. Dan laporan korban sudah diterima oleh petugas SPKT.

“Iya laporan sudah diterima, dan sekarang perkara itu masih tahap penyelidikan oleh Satreskrim Polresta Sidoarjo,” jelasnya. [isa/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar