Hukum & Kriminal

Main ke Rumah Nenek, Bocah SD 5 Kali Jadi Korban Persetubuhan

AKP Girindra Wardana, Kasat Reskrim Polres Kediri Kota.

Kediri (beritajatim.com) – Nasib malang menimpa KS (12) bocah SD asal Kabupaten Kediri. Dia menjadi korban persetubuhan yang dilakukan oleh KM (58) warga Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.

Akibat perbuatan pelaku, korban menjadi trauma. Sedangkan pelaku sudah berhasil diringkus polisi. Kini pelaku tengah mendekam di sel tahanan Polres Kediri Kota.

Kasat Reskrim Polres Kediri Kota AKP Girinda Wardana mengatakan, penangkapan tersangka bermula dari laporan orang tua korban ke polisi. Sedangkan peristiwa persetubuhan itu sendiri berlangsung pada Maret 2021 lalu.

Awalnya korban sering datang ke rumah neneknya yang berlokasi di Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Saat berada di rumah sang nenek, korban KS (12) mendapat perlakukan tidak senonoh dari KM. Hal itu membuat korban takut saat pergi ke rumah neneknya.

“Ibu korban merasa curiga dengan sikap anaknya. Sang ibu bertanya kepada korban dan mengetahui korban pernah disetubuhi oleh tersangka sebanyak lima kali,” kata AKP Girindra Wardana.

Mengetahui kejadian tersebut sang ibu mendatangi Polres Kediri Kota untuk melaporkan tindak pidana persetubuhan terhadap anak dibawah umur.

Petugas Satreskrim Polres Kediri Kota melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut. Setelah dilakukan serangkaian penyelidikan, petugas mengamankan tersangka beserta barang bukti. Saat ini tersangka menjalani di Polres Kediri Kota penyidikan untuk proses hukum lebih lanjut.

Adapun barang bukti yang diamankan diantaranya satu buah kaos lengan panjang, satu buah tingtop warna hitam, satu buah celana dalam dan satu buah celana panjang warna biru milik korban.

Atas perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 81 Undang-Undang No 17 tahun 2016 tentang tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang undang jo Pasal 76 D UU RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 tahum 2002 tentang perlindungan anak.

“Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” tegasnya. [nm/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar