Hukum & Kriminal

Lawan Citraland, 2 Saksi Kuatkan Gugatan Ahli Waris Tarip

Surabaya (beritajatim.com) – Gugatan PMH (Perbuatan Melawan Hukum) yang diajukan Bodin P Tarib terhadap Slamet Mulyosari mantan Kepala Desa (Tergugat 1), Kelurahan Sambi Kerep (tergugat 2), PT.Citraland, Internasional School dan Badan Pertanahan Nasional Surabaya I (turut tergugat) kembali mendatangkan saksi.

Kali ini, dua saksi didatangkan pemohon yakni Kaspan dan Eko W. Secara bergantian, keduanya memberikan keterangan di hadapan majelis hakim yang diketuai Johanis Hehamony.

Saksi pertama yakni Kaspan dalam persidangan menyatakan, dia pernah disuruh Tarib (salah satu ahli waris) untuk menanyakan surat petok D milik Bodin P Tarib (almarhum) ke Slamet Mulyosari mantan Kades (tergugat 1).

Namun, saksi tidak mendapatkan jawaban secara detail lantaran Slamet Mulyosari baru pulang dari rumah sakit dan perlu istirahat.

“Saya pernah ke rumah Slamet Mulyosari mantan Kades (tergugat 1) menanyakan surat petok D (milik Bodin P Tarib) yang dipinjam guna kepengurusan pajak biar lancar ternyata tidak dikembalikan,” ujar saksi dalam persidangan.

Lebih lanjut saksi menyatakan, dia tidak mengetahui mengapa PT.Citraland kuasai obyek lahan milik Bodin P Tarib.

“Iya hanya tahu obyek tersebut tidak pernah dijual,” ucapnya.

Dia menambahkan, empat ahli waris bisa membaca dan menulis atau bisa bertanda tangan.

Hal itu terkait dengan bukti yang diajukan PT Citraland (turut tergugat) yang ditunjukkan ke persidangan bahwa salah satu ahli waris yaitu, Rupi dan Bodin P Tarib telah melakukan pelepasan hak dengan tertera cap jempol.

Saksi kedua yakni Eko W dalam keterangan menyampaikan, pihak ahli waris pernah meminta tolong dirinya untuk mendatangi rumah Slamet Mulyosari mantan Kades (tergugat 1) guna menanyakan kejelasan surat-surat petok D milik 4 ahli waris.

“Saya ketemu langsung dengan Slamet Mulyosari mantan Kades (tergugat 1) dirumah area Benjeng (Gresik) namun tidak mendapatkan jawaban secara detail lantaran, Slamet Mulyosari baru pulang dari rumah sakit paska pemasangan ring pada jantung”, ujarnya.

Masih menurut saksi, Slamet Mulyosari mengatakan, surat sudah berubah tapi juga Bodin P Tarib punya tanah yang kini diperkarakan ke meja hijau.

Atas pengakuan Slamet Mulyosari mantan Kades (tergugat 1), ” Saya mengambil sikap datang ke kantor Kelurahan Sambi Kerep. Sayangnya, meski berulang kali datang ke Kelurahan Sambi Kerep saya hanya mendapatkan jawaban bahwa obyek lahan Persil 61 datanya sudah tidak di sini lagi”, ujarnya.

Hal lain yang disampaikan, dirinya masih ingat bahwa surat petok D nomor persil 61 atas nama Bodin P Tarib (almarhum). Bahkan dia bersama para ahli waris pernah ke lokasi obyek lahan ternyata obyek tersebut telah dikuasai oleh pengembang yaitu, PT.Citraland.

Saksi menambahkan, dia mengetahui bagaimana upaya empat ahli waris dalam memperjuangkan haknya. Ahli waris pernah berkirim surat dan datang ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Surabaya.

“Alhasil, jawaban yang diterima bahwa sudah tidak ada hubungan hukum”, jelasnya.

Saksi menambahkan jika pengembang PT Citraland tidak pernah membeli obyek lahan milik ahli waris.

“Ahli waris tidak pernah terima Ikatan Jual beli (IJB) maupun Akta Jual Beli (AJB) hingga Bodin P Tarib meninggal “, ucapnya.

Saksi juga meyakini, bahwa salah satu ahli waris yang bernama Rupi bisa bertanda tangan dan menulis.

Usai sidang, kuasa hukum pemohon yakni Syafrudin Rakib menyatakan pihaknya kembali mendapat dua alat bukti untuk mempertegas dan memperjelas bahwa ahli waris ini semuanya bisa tanda tangan, khususnya Rupi.

“Dan sudah kita bandingkan dengan alat bukti dari Tergugat yakni Citraland,” ujarnya. [uci/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar