Hukum & Kriminal

Lakukan Penipuan, Caleg Nasdem Gresik Mahmud Divonis 2 Tahun Penjara

Gresik (beritajatim.com) – Terdakwa H.Mahmud Caleg terpilih asal Partai Nasdem hanya bisa tertunduk lesu. Mantan kepala desa itu, divonis hukuman dua tahun penjara oleh hakim Putu Gde Hariadi. Mahmud terbukti melanggar pasal 378 KHUP karena melakukan terkait kasus jual beli tanah.

Vonis yang diterima terdakwa Mahmud berbeda dari tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa dengan hukuman penjara selama 3 tahun. Selain dijerat 378 KHUP, terdakwa juga dituntut melanggar pasal 372 KUHP yakni melakukan tindak pidana penggelapan.

Dalam amar putusannya, Majelis Hakim Putu Gde Hariadi berpendapat apa yang dilakukan terdakwa dengan menerima uang hampir Rp 15,3 miliar untuk pembebasan tanah dari PT Bangun Sarana Baja (BSB), dan uang tersebut tidak dipergunakan sebagai semestinya sesuai dalam perjanjian. Akibat tindakannya itu, terdakwa memenuhi unsur melawan hukum.

Tidak hanya itu, terdakwa yang menyuruh saksi Kastar, dan Rodiyah untuk mencari tanah tapi diberi cek giro kosong. Padahal, terdakwa sudah menerima pembayaran dari PT BSB.

“Menghukum terdakwa dengan hukuman penjara selama dua tahun,” ujar Ketua Majelis Hakim Putu Gde Hariadi, Kamis (15/08/2019).

Usai divonis oleh hakim, terdakwa melalui kuasa hukumnya Michael, dan Gunadi menyatakan banding.

“Kalau diperkenankan kami ingin mengajukan penangguhan agar terdakwa dapat dikeluarkan dari penjara hanya untuk mengikuti pelantikan sebagai anggota dewan tanggal 23 Agustus 2019 nanti,” kata kuasa hukumnya Gunadi.

Atas permintaan itu, Majelis hakim Putu Gde Hariadi mengatakan bahwa ketika sudah menyatakan banding maka status tahanan terdakwa beralih ke pengadilan tinggi.

Atas vonis itu, kuasa hukum terdakwa Michael menyatakan bahwa putusan ini tidak adil untuk kliennya. Pasalnya, jaksa menuntut terdakwa dengan pasal 372 yakni penggelapan, akan tetapi Hakim berpendapat terdakwa melanggal pasal 378 yakni penipuan.

“Ini jelas penggelapan yang dituduhkan jaksa tidak terbukti. Sebab, hakim membalik perkara ini dengan pasal penipuan. Otomatis, saksi dan alat bukti yang dihadirkan oleh jaksa tidak bisa menjerat terdakwa dengan pasal penggelapan dengan pelapor PT BSB,” tandasnya. [dny/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar