Hukum & Kriminal

Kronologi OTT Kejari Ponorogo

Kepala Kajari Ponorogo Khunaifi Alhumami saat menunjukan salah satu barang bukti OTT. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Oknum pendamping lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) berinisial LF, yang dijadikan tersangka oleh Kejari Ponorogo atas dugaan pemerasan. Tersangka mengaku kepada korban SJ, sebagai pihak yang bisa menyelesaikan perkara di kejaksaan. Dengan menggunakan surat panggilan palsu dari kejaksaan, tersangka menakuti korban dipanggil untuk dimintai keterangannya dalam sebuah pengungkapan kasus dugaan korupsi.

“Dalam surat panggilan palsu tersebut, seolah-olah korban terlibat dalam kasus korupsi tersebut, padahal kami tidak menangani kasus, tersangka mengada-ada,” kata Kepala Kejaksaan Negeri ( Kajari) Ponorogo Khunaifi Alhumami, Selasa (4/8)

Saat akan menuruti panggilan palsu tersebut, tersangka LF mencegat korban di depan kantor Kejari Ponorogo. Memberitahukan kepada korban sudah menyelesaikan kasus tersebut dengan pihak kejaksaan dengan menyetor sejumlah uang ke sana. Nah, tersangka itu meminta uang pengganti dari korban SJ. Untuk meyakinkan korbannya, tersangka membuat kwitansi palsu yang menyebutkan kejaksaan telah menerima dana Rp 24 juta untuk menutup kasus tersebut. Korban yang merasa ketakutan, berusaha membayar dengan mencicil. Mulanya diberi Rp 2 juta, kemudian dikasih Rp 6 juta saat berada di salah satu warung kopi di Ponorogo. Nah, saat tersangka menghitung uang tersebut, tim Kejari Ponorogo menangkapnya.

“Uang yang diminta ya Rp 24 juta, tapi korban mencicilnya, mulai Rp 2 juta dan sebelum kena OTT tersangka mendapatkan uang Rp 6 juta,” katanya.

Tersangka LF, oknum pendamping LMDH yang terjaring OTT Kejari Ponorogo. (Foto/Endra Dwiono)

Diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap LF (55), oknum pendamping lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). Dengan mencatut nama kejaksaan, dia melakukan pemerasan terhadap SJ, ketua LMDH Wono Harjo di Kecamatan Mlarak.

“Kami harap masyarakat melaporkan jika ada orang yang mengaku bisa menyelesaikan perkara di Kajari dengan memberikan uang,” kata Kajari Ponorogo Khunaifi Alhumami, Selasa (4/8/2020).

Selain menangkap tersangka LF, tim kejaksaan juga mengamankan barang bukti uang sebesar Rp 6 juta yang diberikan korban kepada tersangka. Saat menghitung jumlah uang itulah, tim kejaksaan menangkap tersangka, di salah satu warung kopi di Kelurahan Nologaten Ponorogo.

“Kami tangkap tersangka, saat menghitung uang hasil pemerasan itu saat berada di warung kopi,” katanya.

Selain mengamankan barang bukti uang, kejaksaan juga mengamankan barang bukti lainnya, yakni satu lembar surat panggilan palsu atas nama SJ, kwitansi palsu dari Kejaksaan senilai Rp 24 juta. Akibat pemerasan yang dilakukan tersangka, LF dijerat dengan pasal 12 E Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Sebab tersangka diduga melakukan penyalahgunaan kewenangan dalam jabatan. Dengan ancaman 20 tahun penjara serta denda minimal 200 juta dan maksimal 1 miliar.

“Tersangka hari ini langsung kami tahan, sementara kami titipkan di rutan kelas 2B Ponorogo,” pungkasnya. [end/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar