Hukum & Kriminal

KPK Sita Dokumen tentang Gula dari Ruang Kerja Mendag

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah

Jakarta (beritajatim.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sejumlah dokumen dalam penggeledahan terhadap ruang kerja Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita di kantor Kementeriam Perdagangan.

“Sejauh ini diamankan dokumen-dokumen terkait perdagangan gula,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Senin (29/4/2019).

Dia menambahkan, KPK perlu melakukan penggeledahan hari ini untuk menindaklanjuti beberapa fakta yang muncul selama proses penyidikan perkara TPK dugaan gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan dengan tersangka Bowo Sidik Pangarso, Anggota DPR-RI.

“Bukti-bukti yang relevan seperti dokumen-dokumen terkait di sana perlu kami cermati. Ini bagian dari proses verifikasi atas beberapa informasi yang berkembang di penyidikan,” ujar Febri tanpa menjelaskan informasi apa yang dimaksud.

Seperti diketahui, kasus ini berawal saat KPK melakukan serangkaian operasi tangkap tangan Rabu (27/3/2019) hingga Kamis (28/3/2019). Dalam tangkap tangan ini, KPK mengamankan 8 orang di Jakarta, yaitu: BSP, (Bowo Sldlk Pangarso) Anggota DPR 2014-2019, AWI (Asty Winasti) Marketing Manager PT Humpuss Transportas: Kimia, SLO (Selo), Head Legal PT Humpuss Transportasi Kimia, IND, (Indung), swasta, PT. INERSIA, MNT (Manto), Bagian Keuangan PT. INERSIA, SD (Siesa Darubinta) swasta, dan dua orang sopir.

Selain 8 orang tersebut, berdasarkan permintaan KPK, dua orang datang ke kantor KPK untuk proses klarifikasi lebih lanjut AHS (Ahmadi Hasan), Direktur Utama PT Pupuk IndoneSia Logistik dan AHT (Achmad Tossin) Direktur Pemasaran PT Pupuk Indonesia.

Kemudian KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan tiga orang tersangka, yaitu: diduga sebagai penerima suap yakni BSP (Bowo Sldlk Pangarso) anggota DPR 2014 2019 dan IND, (Indung), swasta. Adapun diduga sebagai Pemberi ASW, (Asty Winasti) Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia.

Asty diduga memberi Bowo duit Rp 1,5 miliar lewat 6 kali pemberian serta Rp 89,4 juta yang diberikan Asty kepada Bowo lewat Indung saat operasi tangkap tangan terjadi. Suap itu diduga agar Bowo membantu PT HTK dalam proses perjanjian dengan PT Pupuk Indonesia Logistik.

Selain suap, KPK juga menduga Bowo menerina gratifikasi Rp 6,5 miliar dari pihak lain sehingga total penerimaan Bowo berjumlah Rp 8 miliar. Total Rp 8 miliar itu kemudian disita dalam 400 ribu amplop di dalam puluhan kardus. Menurut KPK, duit itu diduga hendak digunakan sebagai serangan fajar untuk Pemilu 2019. [hen/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar