Hukum & Kriminal

KPAI Pantau Sidang Dugaan Pencabulan oleh Pendeta

Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait memantau sidang dugaan pencabulan dengan terdakwa Hanny Layantara, seorang pendeta di Surabaya, Rabu (27/5/2020).

Sidang dengan agenda tanggapan Jaksa atas eksepsi Terdakwa ini digelar molor sampai malam hari. Majelis hakim baru membuka sidang usai sholat maghrib. Sidang yang digelar tertutup ini selesai sekitar pukul 19.00 Wib.

Usai sidang, Arist menyatakan kehadirannya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya untuk mengawal keadilan atas dugaan pencabulan yang dilakukan Hanny Layantara terhadap salah seorang jema’atnya berinisial IW.

“Pemantauan kasus ini merupakan inisiatif lembaga. Kita pun mengklaim telah mengawal kasus ini sejak proses di Kepolisian,”ujarnya.

Namun Arist mengaku kecewa karena dilarang majelis hakim ketika hendak mengikuti sidang yang digelar tertutup tersebut. “Saya kecewa dengan perliku hakim yang menyidangkan HL ini, padahal Komnas Perlindungan Anak punya kewenangan untuk memperlindungi anak dengan cara mengikuti proses hukumnya,”ucapnya.

Terpisah, Jeffry Simatupang salah seroang tim penasehat hukum terdakwa tidak sependapat dengan pernyataan Arist Merdeka Sirait.

“Kami mengapresiasi sikap ketua majelis hakim, yang menyatakan sidang tertutup untuk umum dan menghormati privasi terdakwa,”katanya.

Dalam kasus ini, Jeffery meminta agar pihak pihak yang berperkara maupun yang tidak berperkara untuk menghormati proses peradilan yang sedang berjalan.

“Kita hormati proses hukum, jangan beropini, kita tunggu prosesnya, kita hormati lembaga peradilan,”pungkasnya.

Diketahui, kasus ini mencuat setelah korban (IW) melalui juru bicara keluarga melakukan pelaporan ke SPKT Polda Jatim dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT, pada Rabu 20 Februari 2020.

Berdasarkan keterangan, korban mengaku telah dicabuli selama 17 tahun. terhitung sejak usianya 9 tahun hingga saat ini 26 tahun. Namun, dari hasil pengembangan terakhir pencabulan terjadi dalam rentang waktu 6 tahun, ketika usia korban masih 12 tahun hingga 18 tahun.

Diketahui, kasus ini mencuat setelah korban (IW) melalui juru bicara keluarga melakukan pelaporan ke SPKT Polda Jatim dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT, pada Rabu 20 Februari 2020.

Berdasarkan keterangan, korban mengaku telah dicabuli selama 17 tahun. terhitung sejak usianya 9 tahun hingga saat ini 26 tahun. Namun, dari hasil pengembangan terakhir pencabulan terjadi dalam rentang waktu 6 tahun, ketika usia korban masih 12 tahun hingga 18 tahun. [uci/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar