Hukum & Kriminal

Korban Persetubuhan di Bawah Umur Dijamin Tetap Bisa Sekolah

Kepala Dinas P2KBP2 Kabupaten Mojokerto, Yudha Hadi

Mojokerto (beritajatim.com) – Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (P2KBP2) Kabupaten Mojokerto melakukan pendampingan terhadap korban persetubuhan di bawah umur, RLS (15). Dinas P2KBP2 Kabupaten Mojokerto menjamin siswa SMP kelas IX ini tetap bisa bersekolah.

Kepala Dinas P2KBP2 Kabupaten Mojokerto, Yudha Hadi mengatakan, pihaknya sudah bertemu dengan orang tua korban. “Kami sudah melakukan upaya pendampingan tapi dilakukan secara senyap karena korbannya adalah anak di bawah umur. Usia kehamilan saat ini 7 bulan,” ungkapnya, Kamis (5/12/2019).

Jika pendampingan dilakukan semata-mata, kata Yudha, dikhawatirkan mempengaruhi kondisi kesehatan. Karena yang bersangkutan hamil di bawah usia 19 tahun. Korban sering murung sehingga mempengaruhi kondisi kehamilan korban yang kurang sehat. Pihaknya menjamin akan tetap bisa melanjutkan sekolahnya.

“Korban masih anak-anak, masih panjang masa depannya. Dia (korban) kita jamin dapat melanjutkan sekolah karena sesuai UU ada tiga kriteria. Yaitu korban ingkar janji, ia punya hak untuk terus melanjutkan sekolah. Kedua, apabila korban perkosaan atau pemaksaan pasti mendapat kesempatan untuk sekolah,” jelasnya.

Ketiga, lanjut Yudha, adalah korban jual diri. Secara aturan tidak bisa dialihkan ke kejar paket. Pihaknya akan bertanggungjawab mengintegrasikan pemulihan psikologis agar korban diterima secara sosial di lingkungannya maupun keluarganya. Jaminan pendampingan hukum, psikologis akan dibantu secara gratis.

“Korban hamil karena kejahatan asusila, jika tidak mampu akan ditanggung biaya persalinan hingga caesar. Modus pelaku kejahatan asusila, rata-rata memang korban mengenal pelaku melalui media sosial. Seperti di Mojoanyar, Bangsal, Mojosari, Mojosari, Gondang, Trowulan dan Sooko,” ujarnya.

Yudha menambahkan, rata-rata sejak kelas 5 SD korban sudah aktif di jejaring sosial sehingga jejaring sosial harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, sesuai Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 yang diubah Nomor 35 Tahun 2014 memastikan korban maupun pelaku seksual akan mendapatkan pendampingan hukum.

“Mereka korban kekerasan seksual di bawah umur menjadi prioritas pantauan kami sudah MoU dengan Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan jadi penanganan perkara ada secara khusus. Kita akan bantu visum et repertum, pendampingan psikolog klinis terlepas itu korban keterpaksaan, pemerkosaan dan ingkar janji maka psikolog akan mengetahuinya,” tegasnya.

Sebelumnya, RLS asal Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto hamil tujuh bulan. Pelajar berusia 15 tahun ini, hamil setelah disetubuhi Joko Purwanto warga Desa Bendung, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Awalnya, mereka berkenalan melalui media sosial (medsos) Facebook (FB).

Pelaku persetubuhan anak di bawah umur hingga hamil 7 bulan akhirnya berhasil diringkus. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Mojokerto berhasil mengamankan pelaku, Joko Purwanto pada, Sabtu (30/11/2019). [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar