Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Korban Penipuan: Ada Oknum Bappeda Jatim, Saya Jadi Percaya dan Serahkan Uang

Surabaya (beritajatim.com) – Joko Kustoro (58), warga Sememi Surabaya bersama lima orang temannya menjadi korban penipuan sindikat proyek. Total kerugian yang dialami enam korban penipuan itu mencapai angka Rp 635 juta.

“Saya sendiri mengalami kerugian mencapai Rp 145 juta. Yang Rp 140 juta saya serahkan tunai kepada dua orang pelaku bernama NN dan DN, yang awalnya mengaku sebagai pegawai P3K Bappeda Jatim. Yang Rp 5 juta saya transfer. Dengan lima teman saya, total kerugian Rp 635 juta,” kata Joko yang dikonfirmasi beritajatim.com, Jumat (8/10/2021).

Joko mengaku di masa pandemi ini tidak mempunyai pekerjaan. Hingga pada akhirnya, dia bertemu dua orang yang mengaku sebagai P3K Bappeda Jatim. Dirinya dijanjikan proyek CSR di Bappeda Jatim. Untuk itu, dirinya bersama temannya harus menyetorkan fee sebesar 5 persen dari total nilai proyek kepada pelaku penipuan.

“Awalnya mereka mengaku sebagai pegawai P3K Bappeda Jatim. Tapi setelah kasus ini meledak dan saya selidiki, ternyata mereka itu broker atau orang luar Bappeda. Saya dan teman-teman percaya kepada pelaku dan menyetorkan uang fee 5 persen, karena pelaku menghadirkan seorang oknum pejabat Bappeda Jatim dalam sebuah pertemuan di Top Resto, sebelah Hotel Pasar Besar Surabaya. Lokasinya dekat kantor Bappeda. Oknum itu melakukan presentasi proyeknya,” ujarnya.

Bahkan, kata Joko, transaksi kedua atau selanjutnya, para pelaku penipuan bertemu di rumah makan kawasan Jalan Taman Apsari menggunakan mobil plat merah. “Korban tidak hanya saya saja yang di Surabaya. Tapi ada juga korban di Madiun, Madura dan Jombang. Total enam orang termasuk saya. Para pelaku memanfaatkan masa pandemi ini kepada kami yang memang butuh mendapatkan pekerjaan kontruksi. Uang fee 5 persen yang disetor Rp 635 juta itu ibaratnya untuk ngunci, agar tidak diberikan ke kontraktor lain,” tuturnya.

Apakah telah melaporkan kasus penipuan ini kepada kepolisian? “Saya sudah serahkan kepada penasihat hukum. Silakan konfirmasi ke penasihat hukum,” imbuhnya.

Kepada Joko, kedua pelaku penipuan ini telah menawarkan sebuah proyek yang bakal digarap pada tahun 2020. Proyek tersebut, di antaranya adalah pengadaan, pavingisasi hingga proyek pembangunan gorong-gorong di seluruh wilayah Jatim.

Tidak hanya itu, kepada para korban, kedua pelaku ini menyebut jika proyek itu merupakan program CSR Perusahaan yang dikelola oleh Bappeda Jawa Timur .

Namun setelah beberapa bulan ditunggu, lanjut Joko, proyek tersebut tidak ada kabarnya, dirinya yang pro aktif menanyakan kapan proyek tersebut digarap, malah tak mendapat jawaban memuaskan. Akhirnya, ada inisiatif untuk mendatangi Bagian Tata Usaha Bappeda Jawa Timur.

“Saya awalnya tanya di mana kantor CSR Bappeda. Tapi kata petugas kalau kantor CSR tidak ada di sini. Saya kemudian mulai curiga dan diarahkan ke Bidang Evaluasi oleh petugas,” kata Joko.

Setelah bertemu petugas bidang evaluasi, barulah ia yakin jika proyek yang ditawarkan kepadanya dan lima temannya itu fiktif. Lebih yakin lagi, dirinya diberitahu oleh petugas bidang evaluasi yang memang membidangi terkait proyek pembangunan dan CSR yang mengatakan tidak ada proyek yang ditawarkan oleh NN dan DN.

Kepala Bappeda Jatim, M Yasin yang dikonfirmasi terpisah menegaskan, tidak ada proyek fiktif di Bappeda. “Kalau korban merasa ditipu silahkan lapor ke aparat penegak hukum (APH). Laporkan ke Polda saja para pelakunya biar semua terang benderang,” katanya.

Apakah pelaku adalah pegawai Bappeda? “Dia penipu yang ngaku-ngaku orang Bappeda. Dia bukan pegawai Bappeda dan tidak ada hubungannya dengan Bappeda,” tukasnya.

Ketika disebutkan sebuah nama AYW yang diduga seorang pejabat Bappeda, Yasin tidak membalas pesan yang dikirimkan beritajatim.com. AYW sendiri yang dihubungi beritajatim.com malah bertanya. “Dapat nomor saya darimana, Mas. Saya takdim ke Pak Kaban (Kepala Bappeda Jatim Yasin) saja mas. Teman-teman media lain sudah bertemu dengan Pak Kaban untuk konfirmasi,” ujarnya singkat. (tok/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar