Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Korban Investasi Bodong, Emak-emak di Mojokerto Tergiur Keuntungan 14 persen

Caption : Satreskrim Polres Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Sedikitnya 17 orang emak-emak di Mojokerto menjadi korban dugaan penipuan umroh dan investasi bodong tersebut. Total kerugian calon jemaah umroh sebesar Rp130 juta, sedangkan kerugian investasi fiktif Rp284 juta tersebut sudah dilaporkan ke Satreskrim Polres Mojokerto.

Belasan emak-emak di Mojokerto tertipu umroh dan investasi bodong sehingga mengalami kerugian hingga Rp 414 juta. Para korban tergiur umroh dengan biaya murah dan investasi dengan keuntungan 14 persen per bulan. Hal tersebut disampaikan sejumlah korban.

Salah seorang korban, KF (45) mengaku, menjadi korban dugaan penipuan umroh dan investasi bodong dari SD (39), warga Kecamatan Puri, Mojokerto. SD menjanjikan keuntungan Rp7 juta per bulan selama 15 bulan jika korban menginvestasikan uang senilai Rp55 juta.

“Saya pinjam ke bank Rp55 juta karena iming-iming dapat keuntungan Rp7 juta setiap bulan sampai 15 bulan ke depan. Tidak tahu itu investasi untuk bisnis apa? Pokoknya dijanjikan untung besar. Saya menyerahkan uang tersebut sejak November 2020 ke pelaku (SD, red),” ungkapnya, Jumat (12/11/2021).

Masih kata korban, dana investasi disetorkan ke seorang pengendali di Surabaya. Warga Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini hanya sekali menerima keuntungan sebesar Rp7 juta sesuai janji pelaku dari investasi fiktif tersebut pada bulan Desember 2020 lalu.

“Hanya satu kali (keuntungan, red). Selain menyerahkan Rp55 juta ke pelaku, saya juga menyerahkan uang Rp20 juta kepada pelaku untuk biaya umroh. Saya dijanjikan ibadah umroh dengan biaya Rp10 juta saja jadi saya setor Rp20 juta pada tahun 2019 untuk umroh bersama suami,” katanya.

Janji pelaku, lanjut korban, dengan biaya sebesar Rp10 juta per orang maka setelah setor uang tersebut dalam dua tahun akan diberangkatkan umroh. Dari keterangan pelaku ke korban jika uang tersebut dikembangkan, namun hingga saat ini korban tak mendapatkan penjelasan terkait uangnya tersebut.

Sementara itu, pengacara para korban Sadak menjelaskan, jika pihaknya terpaksa melaporkan pelaku ke Satreskrim Polres Mojokerto karena permintaan mediasi tidak pernah di respons oleh pelaku. “Umroh dan investasi itu, semuanya bodong,” tegasnya. [tin/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar