Hukum & Kriminal

Kirim Hardisk Berisi Sabu dan Pil, Warga Ngagel Terciduk

Pelaku tunjukkan sabu yang dikirim dengan bentuk hardisk komputer melalui logistik di Polsek Gubeng, Surabaya, belum lama ini.(Manik Priyo Prabowo)

Surabaya (beritajatim.com) – AHW (34), warga Ngagel Surabaya, terpaksa harus diamankan petugas lantaran melakukan pengiriman narkoba jenis sabu. Pelaku mengirimkan narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi dengan cara disembunyikan di dalam Hardisk dan CD Room Komputer yang terbungkus plastik Bubblewrap warna Hitam dan dikirimkan melalui jasa Ekspedisi serta Ranjau.

Kapolsek Gubeng Kompol Palma mejelaskan, pelaku melanggar Pasal 114 ayat (2) UU. RI. No. 35 Tahun 2009, Tentang Narkotika. “Jadi pelaku ini membongkar hardisk dan CD room kemudian diisi narkoba. Dalam laporan pelaku saat mengirim menggunakan ekspedisi ya berisi perangkat keras komputer. Tapi isi di dalamnya sabu dan pil koplo,” jelasnya.

Menurut penjelasan petugas, dari tangan pelaku petugas mengamankan empat poket narkotika jenis sabu-sabu dengan berat keseluruhan kurang lebih 519,88 Gram beserta plastik pembungkusnya dan tujuh poket berisi 519 butir Narkotika jenis Pil Ekstasi dengan berat keseluruhan kurang lebih 192,3 Gram beserta plastik pembungkusnya. Selain itu pwtugas juga mengamankan delapan buah Hardisk atau CD Room Komputer bekas.

“Awalnya ada laporan akan gerak-gerik orang mencurikan membuang sampah dan kemudian diambil orang. Petugas yang curiga ada transaksi sabu ini pun mengikuti pelaku. Benar adanya bahwa pelaku melakukan transaksi sabu dengan ranjau,” lanjut Kompol Palma.

Usai mengamankan pelaku, petugas pun mengembangkan kasus ini. Sampai akhirnya pelaku mengaku jika transaksi dilakukan dengan beberaoa cara termasuk pengiriman sabu memakai hardisk dan cd room. Menurut tersangka bahwa Narkotika jenis Sabu-sabu dan Pil Ekstasi tersebut adalah milik seorang laki-laki yang bernama MV (DPO). Tersangka memperoleh barang ini dengan cara ranjau. Tersangka juga menggunakan cara ranjau berdasarkan perintah saudara MV (DPO) melalui telepon dan WhatsApp dan dengan lokasi yang telah ditentukan oleh saudara MV (DPO).

Kemudian tersangka mendapatkan uang imbalan sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pengiriman yang didapatkan dari saudara MV (DPO). “Kita masih kembangkan terkait kasus ini. Terngka kita kenakan pasal 114 karena terbukti mengedarkan narkotika,” tandas Palma. (man/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar