Hukum & Kriminal

Keterangan Saksi Pojokkan Terdakwa Kasus Waduk Sepat

Surabaya (beritajatim.com)  -Tiga saksi didatangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang perkara pengeroyokan yang mendudukkan dua terdakwa Darno dan Dian Purnomo tersebut.

Tiga saksi tersebut
dari pihak PT Ciputra, pengamanan kawasan waduk dan fasum, serta warga setempat.

Rina Irsni Wardodo selaku bagian legal dari PT Ciputra mengatakan, pihaknya menyesalkan perbuatan pengrusakan yang dilakukan kedua terdakwa, meski sebenarnya fasilitas umum dan pengelolaan Waduk Sepat itu nantinya akan diserahkan kepada warga, setelah sebelumnya diserahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya.

“Kami sudah melakukan pembangunan fasum di situ, yang nantikan akan diserahkan dan dikelola oleh warga, tentunya oleh lembaga yang dibentuk warga sendiri,” kata Rina.

Rina menegaskan bahwa lahan yang diperkarakan Darno dan Dian Purnomo selama ini adalah sah secara hukum milik PT. Ciputra, hasil diruislag atau tukar menukar dengan Pemkot Surabaya. Sedangkan tanah miliki PT. Ciputra di Kelurahan Pakal, saat ini telah dibangun oleh Pemkot Surabaya sebagai Sport Center Stadion Gelora Bung Tomo.

Saksi bernama Firman yang saat kejadian sedang bertugas sebagai pengamanan kawasan, memastikan ada upaya memasuki lahan milik PT. Ciputra tanpa izin dan dengan cara memaksa yang berakibat pada rusaknya engsel dan kunci pintu. Firman menyebut ada sekitar 30 orang lebih yang masuk, setelah pintu berhasil dibuka secara paksa.

“Mendengar suara gaduh lalu saya datangi sumber suara itu, terlihat orang yang pakai baju koko menggedor-gedor, tidak lama kemudian pintu sudah terbuka dan pagar rusak, saya kemudian lari. Tidak ada izin, mereka membuka pintu dengan paksa,” tutur Firman.

Warga RT 5 RW 5, Sepat Lidah Kulon, Gendut mengatakan, dirinya sebagai petugas pengawasan dan pengamaman area waduk menerima laporan bahwa telah terjadi keramaian warga yang melempari dan memaksa membuka pagar di area waduk. Gendut bersama seorang rekannya kemudian datang ke lokasi dan mengawasi dari luar area, untuk mengetahui siapa saja yang masuk dan melakukan pengrusakan.

“Di area fasum itu, saya dengar sendiri yang memerintahkan untuk mendobrak pintu fasum adalah pak Darno. Tidak lama kemudian pintu itu didobrok oleh anak buahnya. Kalau tidak bisa dibuka dobrak saja, itu atas dasar perintah pak Darno,” terang Gendut.

Gendut kemudian melihat banyak orang yang masuk ke area waduk, dengan cara mendobrok pintu yang kedua di sebelah utara. Saat massa memasuki area pintu air, Gendut mengaku tidak lagi dapat memantau secara jelas, namun meminta anak buahnya yang dekat dengan pintu air untuk tetap mengawasi apa saja yang terjadi tanpa harus menghalau warga yang telah masuk.

“Ada anak buah saya suruh masuk, masuk saja kamu, awasi saja, jangan sampai dilerai. Awasi siapa saja yang bikin rusak, siapa saja yang memerintahkan kamu nanti lapor saya,” ujar Gendut.

Gendut mengaku mendengar masuknya sejumlah warga ke lokasi fasum dan waduk, karena informasi kondisi air dari waduk ke saluran dikatakan sedang deras. Padahal, Gendut melihat tidak ada kondisi seperti yang dikatakan sejumlah warga, yang melakukan aksi dan memasuki lahan milik PT. Ciputra.

“Awal mulanya meraka masuk itu karena mengira air yang ada di waduk mengalir deras ke saluran, padahal itu hanya alibi mereka yang mengada-ada. Kondisi saat itu juga tidak sedang hujan, saya kontrol kondisi di saluran air, saya foto juga, tidak seperti yang dikatakan mereka,” lanjut Gendut.

Warga Sepat Lidah Kulon yang lain, Sugi Waras mengatakan, bahwa aksi memasuki lahan milik PT. Ciputra oleh sejumlah warga dilakukan tanpa izin. Sugi mengaku melihat sendiri terdakwa Darno merusak pintu di bagian pertama dengan cara menendang.

“Saya melihat dari jarak sekitar 5 meter, dan yang merusak itu pak Darno, mendobrak dengan kaki, menendang sampai lepas dan mereka akhirnya masuk,” kata Sugi.

Sugi melihat sejumlah warga masuk ke area waduk dengan merusak pintu kedua yang membatasi antara area fasum dengan waduk. Ia juga melihat Dian Purnomo yang menuju pintu air dan melakukan pengrusakan dengan cara mamasukkan kayu dan batu.

“Dimasuki kayu dan batu, di pintu air itu kan ada sisanya bekas perbaikan saluran karena baru selesai diperbaiki, akhirnya ditutup juga pakai semen, dicor,” imbuh Sugi.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LKMK) Lidah Kulon, Mariono juga membenarkan telah terjadi pengrusakan terhadap pintu fasum dan area waduk, meski tidak melihat sendiri saat peristiwa terjadi. Saat itu Mariono sedang berada di tempat lain, dan akhirnya dijemput oleh terdakwa Dian Purnomo untuk melihat dan membantu menyelesaikan persoalan yang diceritakan Dian kepadanya.

“Saya tidak tahu persis kejadian awalnya meski rumah saya dekat dengan lokasi, karena saya sedang di rumah kakak saya. Awalnya saya tidak mau tapi dipaksa oleh Dian dan dibilang ada banjir. Ternyata saya cek di lokasi di jalan lintasan air itu normal, tidak ada kondisi air seperti yang dibilang Dian,” kata Mariono.

Mariono menceritakan bahwa saat tiba di lokasi, dia melihat pintu pertama telah terbuka dan banyak orang sudah masuk ke lokasi fasum. Mariono kemudian diajak secara paksa untuk melihat apa yang dikeluhkan oleh pendemo, yang ternyata aliran airnya tidak deras. Para pendemo tetap menuntut agar pintu air ditutup malam itu juga.

“Saya menyarankan jangan ditutup total, kalau hujan nanti tidak bisa buka tutup. Karena pintu air ini masih dalam perbaikan, besok saja karena ini kan malam, kalau memasuki lahan orang lain kan nanti ada hukumnya, saya ajak mereka turun untuk menyelamatkan warga itu agar tidak ada tindakan anarkis, malah saya yang dihujat dan diolok,” tutur Mariono.

Rina menambahkan, pihaknya kurang memahami penolakan kelompok Darno dan Dian atas tukar guling lahan Waduk Sepat yang secara hukum telah sah menjadi milik PT. Ciputra. Selama ini PT. Ciputra telah berusaha memenuhi rekomendasi Pemkot Surabaya dan keinginan warga, dengan tetap mempertahankan keberadaan waduk hingga kini, dan menambah dengan fasilitas umum yang menunjang aktivitas ekonomi warga setempat.

Menurut Rina, argumen dan opini yang coba dibangun selama ini oleh kelompok Darno dan Dian yang menuntut pengembalian waduk, tidak ada kaitannya dengan tindakan pengrusakan yang dilakukan pada 6 Juni 2018 lalu.

“Rencana kedepan untuk waduk itu tetap ada sesuai dengan fungsinya hanya nantinya dioptimalkan, yaitu luasannya diperkecil dengan volume yang tetap sama seperti semula, ditambah fasilitas lainnya seperti masjid dan sentra UKM telah kami bangunkan. Jadi ini murni masalah kriminalitas, karena mereka masuk lahan orang lain tanpa izin dan melakukan perbuatan melawan hukum dengan melakukan pengrusakan,” tandas Rina. [uci/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar