Hukum & Kriminal

Keluarga Menduga Korban Bukan Meninggal karena Jebakan Monyet tapi Dibunuh

Sumenep (beritajatim.com) – Kasus meninggalnya Moh. Hasan (35), warga Desa Lebeng Timur, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep akibat kesetrum jebakan monyet, terus berbuntut.

Keluarga korban dan dua mantan terpidana kasus tersebut, yakni Misnal dan H. Rofiqi, mendatangi Polres Sumenep. Dengan didampingi kuasa hukumnya, mereka berniat bertemu dengan Kapolres setempat, untuk menuntut keadilan.

“Kami merasa ada ketidakadilan dalam pengungkapan kasus itu. Ada fakta-fakta yang sepertinya sengaja tidak diungkap oleh aparat penegak hukum. Dan itu sangat merugikan klien kami yang ditetapkan sebagai tersangka,” kata Syafrawi, kuasa hukum Misnal dan Rofiqi, Kamis (28/02/2019).

Sebelumnya, pada 3 Maret 2019, Moh. Hasan (35), warga Desa Lebeng Timur, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep ditemukan meninggal di dekat sawah milik Misnal.

Hasil penyelidikan kepolisian, korban meninggal diduga akibat tersengat perangkap monyet, karena di sekujur tubuhnya mengalami luka bakar. Di lokasi ditemukan ada perangkap berupa kawat yang dialiri listrik untuk menangkap monyet.

Polisi kemudian menetapkan pemilik lahan dan pekerjanya sebagai tersangka dengan pasal kelalaian yang menyebabkan kematian orang lain. Setelah melalui masa persidangan, keduanya divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara 5 bulan 15 hari. Saat ini keduanya telah selesai menjalani hukuman.

“Kami yakin, pak Hasan meninggal bukan karena tersengat jebakan monyet, tetapi diduga dibunuh. Karena saat kejadian, ada saksi yang mendengar jeritan korban. Selain itu, ditemukan bercak darah di sebuah gedung sekolah tak terpakai,” ungkap Syafrawi.

Namun ia menyayangkan, mengapa aparat kepolisian tidak mencocokkan bercak darah yang ditemukan di tempat yang diduga sebagai TKP pertama itu, apakah sesuai dengan bercak darah korban atau tidak. Selain itu, menurut pemilik lahan, jebakan monyet itu sudah lama tidak digunakan.

“Kawat itu sudah tidak dialiri listrik berminggu-minggu lamanya. Bagaimana mungkin korban dianggap meninggal karena tersengat listrik? Ini kan aneh. Sayangnya saksi ahli dari PLN tidak hadir di persidangan,” terangnya.

Namun sayang, keinginan untuk bertemu dengan Kapolres Sumenep, AKBP Muslimin tidak bisa tercapai, karena Kapolres tengah berada di Polda Jawa Timur untuk kepentingan dinas. [tem/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar