Hukum & Kriminal

Kebiri Kimia pada Pembina Pramuka Ditolak IDI, Ini Alasannya

Dr Poedjo Hartono

Surabaya (beritajatim.com) – Vonis hukuman Kebiri Kimia yang diberikan kepada Rahmat Slamet Santoso, setelah dinyatakan bersalah telah mencabuli 15 anak didiknya semasa menjadi pembina Pramuka sejak tahun 2015.

Majelis hakim pun menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 80 dan Pasal 82 Undang-undang (UU) Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 12 tahun, denda Rp 100 juta subsider 3 bulan penjara dan ditambah dengan tindakan kebiri kimia selama 3 tahun,” ujar Hakim Dwi Purwadi.

Terkait vonis kebiri ini, pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan tidak ingin terlibat dalam eksekusi tersebut. Dr Poedjo Hartono dari IDI Surabaya mengatakan bahwa eksekusi kebiri tidak sesuai dengan kode etik kedokteran.

“Kita mempunyai kode etik kedokteran yang tidak memungkinkan kita untuk melakukan eksekusi semacam itu,” ujarnya.

Ia memastikan bahwa IDI menghargai keputusan untuk menghukum semaksimal mungkin pelaku kekerasan seksual, tetapi putusan kebiri tidak sesuai dengan prinsip dan etika dokter.

“Hanya untuk eksekusi kebiri, kami tetap pada prinsip kedokteran untuk tidak terlibat pada eksekusinya,” tegasnya.

Ia mengatakan sebagai dokter ada beberapa hal yang harus ditaati seperti pertama harus selalu menghormati manghayati dan mengamalkan sumpah kedokteran. Pada sumpah dokter salah satu pasalnya adalah senantiasa menghormati kehidupan insani mulai dari pembuahan.

“Kebiri ini khan merusak. Berbeda dengan seandainya pelaku adalah pasien yang memang menderita dan perlu pengobatan apapun. Pelaku ini kan bukan dan belum pasien,” tegasnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar