Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Kasus Subchi, Bukti Negara Tidak Bisa Kalah dari Tersangka Pencabulan

Dita Amalia saat mengisi seminar di Hotel Grand Darmo beberapa waktu lalu.

Surabaya (beritajatim.com) – Kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh Mochammad Subchi Azal Tsani (42) di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah beberapa waktu lalu sempat menjadi perhatian publik. Terbaru, Bechi saat ini telah melaksanakan sidang perdana di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (18/07/2022) lalu.

Menanggapi kasus yang menghebohkan tersebut, Direktur Plato Foundation, Dita Amalia menilai, negara telah membuktikan jika negara tidak bisa kalah dengan terduga pencabul, walaupun tersangka adalah anak tokoh agama berpengaruh di Jombang. Namun, ia berharap negara juga wajib hadir melakukan pendampingan bagi korban, baik secara hukum maupun pendampingan berupa trauma healing.

“Mereka sebagai korban punya hak untuk mendapatkan penanganan, perlindungan dan pemulihan, itu yang harus di garis bawahi. Gak cukup pelaku dihukum seberat-beratnya, tapi korban juga perlu penanganan, perlu support system sampai mereka benar-benar pulih,” katanya.


Dita menambahkan, empat korban yang menarik diri untuk menjabarkan kesaksiannya dalam persidangan itu diduga karena kurangnya pendampingan untuk membuat korban berani bersuara. Selain itu, faktor sosial juga menjadi pertimbangan bagi korban hingga membuat tidak berani melapor atau memberikan kesaksiannya, seperti menjaga nama baik, menjaga citra hingga merusak hubungan rumah tangga bagi yang sudah menikah.

“Jadi gak cuma pelaku sudah dihukum berat kemudian selesai. Tapi korban harus diperhatikan, karena itu jelas tidak mudah buat korban dari segi mental dan fisik untuk menghadapi masalah ini,” lanjutnya.

Dia berharap, masyarakat menyadari bahwa kejahatan seksual bisa menimpa siapa saja dan di mana saja. Oleh sebab itu, kasus kekerasan seksual ini dijadikan masalah serius untuk memberikan hukuman berat bagi pelakunya. Sebab, pelaku berpotensi melakukan perbuatan asusila itu bila hanya hukuman penjara.

“Jangan pernah ada kata damai. Bagaimana hukuman bagi si pelaku harus seberat-beratnya, kalau bisa kebiri. Karena sudah memakan banyak korban, aku yakin itu masih hidden (tersembunyi), belum terkuak semuanya,” tegasnya.

“Jadi kalau bisa bukan sekedar hukuman penjara, kalau bisa dikebiri. Takutnya, kalau (tuntutan) hukuman penjara itu 12 tahun, Itu berpotensi dilakukan lagi setelah dia bebas di usia 54 tahun,” pungkasnya.

Sekadar informasi, beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo melalui Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengatakan, seluruh santri Ponpes Shiddiqiyyah agar mendapatkan pemulihan dari trauma dari adanya peristiwa tersebut.

“Ya, tadi Beliau (Jokowi) beri arahan supaya itu terus diadakan pembinaan kepada lembaga-lembaga pendidikan, termasuk yang sekarang sudah terjadi itu, harus ada semacam mitigasi atau trauma healing untuk para santrinya,” kata Menteri Agama Ad Interim Muhadjir Effendy di Kompleks Istana Kepresidenan, beberapa waktu lalu, Selasa (12/7/2022). [ang/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev