Hukum & Kriminal

Kasus Perjudian di Bojonegoro Marak, Pelaku Tertua Usia 64 Tahun

Polres Bojonegoro menggelar konferensi pers saat pemusnahan barang bukti sitaan hasil Operasi Pekat Semeru 2021

Bojonegoro (beritajatim.com) – Selama operasi Pekat Semeru 2021, Polres Bojonegoro sedikitnya mengungkap 19 kasus perjudian yang ada di wilayah hukumnya. Dari kasus itu, tersangka yang diamankan sebanyak 24 orang dengan usia tertua 64 tahun.

Pelaksanaan Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) Semeru 2021 berlangsung selama 12 hari, mulai 22 Maret hingga 2 April 2021. Operasi Pekat Semeru 2021 digelar untuk menciptakan situasi aman, damai dan kondusif menjelang bulan Ramadan, dengan sasaran perjudian, premanisme, miras, prostitusi, narkoba, handak dan petasan.

“Polres Bojonegoro dan jajaran berkomitmen untuk menciptakan situasi aman, damai dan kondusif selama bulan Ramadan nanti,” ujar Kapolres Bojonegoro AKBP EG Pandia, Senin (12/4/2021).

Tersangka dengan usia tertua dalam kasus perjudian itu diamankan oleh Polsek Balen, dengan inisial MK (64) Warga Desa Kenep, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Dia diamankan di sebuah warung pada Senin (29/3/2021) sore hari. Dengan barang bukti sebuah handphone dan uang tunai senilai Rp525 ribu.

“Kepada para tersangka dikenakan Pasal 303 KUHP tentang perjudian dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara,” ungkapnya.

Selain mengungkap kasus perjudian, dalam Operasi Pekat tersebut Polres Bojonegoro secara keseluruhan mengamankan 188 tersangka dari 169 kasus. Rinciannya, kasus premanisme sebanyak 17 tersangka, judi ada 19 kasus dengan 24 orang tersangka, prostitusi 21 kasus dengan 21 tersangka, miras ada 113 kasus dengan 115 tersangka, narkoba ada 9 kasus dengan 11 orang tersangka.

Sedangkan untuk barang bukti miras selama Operasi Pekat Semeru berhasil diamankan 3.800 liter berbagai jenis miras dan barang bukti sabu 2 bungkus klip kecil warna bening dengan berat 4,11 gram.

Kapolres Bojonegoro mengimbau kepada seluruh masyarakat, selama menjalankan ibadah puasa tetap waspada terhadap lingkungan, setidaknya jadilah polisi untuk diri sendiri, selalu menjaga toleransi antar umat beragama dan tidak melakukan kegiatan sweeping, serta tidak menyalakan petasan yang dapat mengganggu jalannya ibadah di bulan suci Ramadan.

Beberapa barang bukti hasil operasi pekat tersebut kemudian dimusnahkan. Pemusnahan tersebut mendapat respons positif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bojonegoro. Ketua MUI Bojonegoro, Alamul Huda yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut.

“Kami sangat mendukung langkah-langkah Polres Bojonegoro untuk terus melakukan razia peredaran miras tanpa izin. Mengingat sebentar lagi kan memasuki bulan puasa. Masyarakat butuh ketenangan dan kenyamanan. Agar bisa melaksanakan ibadah puasa dengan khusyuk,” paparnya. [lus/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar