Hukum & Kriminal

Kasus Perceraian di Pengadilan Agama Surabaya Terus Meningkat

Surabaya (beritajatim.com)- Jumlah kasus perceraian selama semester pertama 2019 di Surabaya mengalami kenaikan 5,8 persen. Dari 2740 kasus pada Januari hingga Juni 2018 menjadi 2911 kasus pada periode yang sama tahun ini.

Dari 2911 kasus perceraian yang ada, terdapat berbagai macam faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kasus perceraian ini.Faktor-faktor tersebut antara lain poligami, ekonomi, tidak ada tanggung jawab, gangguan pihak ketiga dan lainnya.

Dari beberapa faktor tersebut, terdapat 3 faktor utama yang menyebabkan hal ini terjadi. Yaitu faktor ekonomi 968 kasus, faktor tidak ada tanggung jawab 105 kasus, dan faktor gangguan pihak ketiga 470 kasus.

“Dari sekian alasan loh ya, yang paling banyak itu pertama kebutuhan hidup, artinya ekonomi, kedua pihak ketiga dan ketiga faktor tanggung jawab,” ungkap Drs, Agus Suntono, M.H.I., Kabag Humas Pengadilan Agama Surabaya, Selasa (09/07/2019)

Menurut Suntono, kasus perceraian yang ditangani oleh Pengadilan Agama Surabaya mayoritas diajukan oleh pihak istri kepada suami. Persentasinya sendiri 60% dari pihak istri dan 40% dari pihak suami. “Kira-kira loh ya. Yang mengajukan persentasinya 60 banding 40 persen. Jadi 60% itu dari pihak istri,” ujar Suntono.

Daerah yang menjadi penyumbang terbanyak kasus perceraian sendiri setiap tahun berbeda. Terkadang Wonokromo, Perak, dan Rungkut. Tergantung dari dinamika masyarakat itu sendiri.

“Pada tahun tertentu banyak dari daerah Wonokromo ini, pada tahun tertentu wilayah Perak, Rungkut. Memang dinamika kehidupan tidak bisa tetap di daerah sini saja,” tambah Suntono. [mnf/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar