Hukum & Kriminal

Kasus Penggelapan Saham PT Zangrandi, 4 Terdakwa Dituntut 30 Bulan

Surabaya (beritajatim.com) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo menuntut pidana penjara selama dua tahun enam bulan (30 bulan) pada empat terdakwa kasus penggelapan di PT Zangrandi Prima. Mereka adalah Ir. Willy Tanumulia, drg. Grietje Tanumulia, Emmy Tanumulia, dan Fransiskus Martinus Soesetio.

Dalam surat tuntutan JPU Damang Anubowo dari Kejaksaan Negeri Surabaya menyatakan bahwa keempat terdakwa didakwa telah melakukan tindak pidana penggelapan saham sepuluh lembar milik korban Evy Susantidevi Tanumulia atau senilai Rp 10 juta. Dan dinyatakan terbukti melanggar Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. “Menuntut pidana penjara masing-masing 2 tahun 6 bulan penjara,” kata jaksa Damang di ruang sidang Garuda Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (2/6/2020).

Atas tuntutan tersebut ketua majelis hakim Pujo Saksono memberikan waktu satu minggu kepada para terdakwa untuk mengajukan nota pembelaan atau pledoi. “Kami berikan waktu kepada para terdakwa untuk pembelaan, baik secara tertulis, lisan atau melalui penasehat hukumnya,” ucapnya sembari menutup persidangan.

Untuk diketahui, Adi Tanumulia (alm) dan Jani Limawan (alm) merupakan pasangan suami istri yang memiliki tujuh anak kandung. Mereka adalah Sylvia Tanumulia, Robiyanto Tanumulia, Emmy Tanumulia, Willy Tanumulia, Ilse Radiastuti Tanumulia, Evy Susantidevi Tanumulia dan Grietje Tanumulia.

Setelah keduanya meninggal, bisnisnya dikelola tujuh anak kandungnya dengan pembagian saham. Salah satunya, Sylvia Tanumulia yang memiliki 20 lembar saham senilai Rp 20 juta. Empat terdakwa masing-masing memiliki 10 lembar saham senilai Rp 10 juta. Sylvia yang merupakan anak pertama lantas membuat surat pernyataan di hadapan notaris. Isinya menerangkan bahwa 20 lembar saham itu bukan sepenuhnya miliknya. Dia hanya memiliki 10 lembar saham. Sepuluh lembar saham lainnya adalah milik adiknya, Evy. Hal tersebut dilakukan karena Evy menikah dengan warga negara Belanda. “Sylvia Tanumulia hanya dipinjam nama untuk penyetoran 10 saham tersebut,” ujar jaksa Damang.

Sepuluh saham itu menjadi hak Evy. Sylvia tidak berhak menjual saham tersebut tanpa persetujuan Evy. Selanjutnya, pada 25 Oktober 2012, Sylvia membuat surat wasiat. Dia menghibahkan 20 lembar saham PT Zangandri Prima kepada tiga terdakwa. Masing-masing 35 persen. Termasuk aset Evy. Sylvia meninggal pada 3 Maret 2013.

Keempat terdakwa lantas pergi ke notaris pada 2014. Mereka membuat pernyataan yang isinya menyatakan bahwa keempatnya mengetahui hanya 10 di antara 20 saham yang menjadi milik Sylvia. Sisanya merupakan milik Evy.

Pada 27 April 2016, terbit akta yang berisi tentang ahli waris harta Sylvia. Mereka adalah Robby Ichwan Tanumulia, Emmy, Willy, Ilse, dan Evy yang masing-masing mendapatkan hak seperenam. Satu lagi, Grietje memperoleh seperlima. Mereka semua adalah saudara kandung Sylvia.

Direktur Zangrandi Fransiskus Martinus dan empat terdakwa mengadakan RUPS luar biasa tanpa dihadiri seluruh pemegang saham. RUPS itu membahas pengalihan saham Sylvia kepada keempat terdakwa. Termasuk saham milik Evy yang beralih kepada para terdakwa. Fransiskus akhirnya mengesahkan hasilnya meski tidak kuorum.

Dengan adanya RUPS tersebut, saham Sylvia beralih kepada keempat terdakwa. Willy dan Grietje mendapat tujuh lembar saham dan Emy memperoleh enam lembar saham. Ketiga terdakwa dianggap bersalah menggelapkan saham Evy. “Dari awal, terdakwa tahu 10 di antara 20 saham Sylvia milik Evy. Namun, mereka tetap mengalihkan saham kepada terdakwa,” jelas Damang. [uci/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar